Pemanfaatan EBT di Bali Baru 0,12 Persen

Dari seluruh sumber listrik di Bali, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai 0,12 persen. Ditargetkan pemanfaatan EBT meningkat menjadi 23 persen pada 2025 mendatang.

PANEL SURYA - Salah satu pemasangan panel surya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dari seluruh sumber listrik di Bali, pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai 0,12 persen. Ditargetkan pemanfaatan EBT meningkat menjadi 23 persen pada 2025 mendatang.

Senior Manager Perencanaan PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali  Putu Putrawan, Jumat (11/6) kemarin, mengatakan ketersediaan sumber EBT di Bali cukup melimpah. Potensi EBT yang dapat dikembangkan di Bali antara lain tenaga panas bumi sebesar 65 MW yang berlokasi di Banyuwedang, Seririt, Batukaru, Penebel, Buyan, Beratan dan Kintamani. Potensi lainnya seperti tenaga air sebesar 30 MW, tenaga surya 100 MWp, tenaga sampah 15 MW, tenaga angin 30 MW dan tenaga arus laut 12 MW.

Salah satu upaya untuk mempercepat peningkatan bauran energi ini adalah dengan memanfaatkan pembangunan photovoltaic (PV) pada atap–atap bangunan, termasuk kantor–kantor PLN. “Menurut data kami, pelanggan PLTS atap di Bali baik yang on-grid (tersambung ke jaringan PLN) maupun tidak  saat ini sebanyak 128 dengan total kapasitas 1.514.447 Wp. Kami yakini jumlah ini akan bertambah,” ungkapnya.

Untuk mendukung penerapan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Penggunaan Energi Bersih, selain memanfaatkan atap bangunan untuk dipasang PV, PLN juga melakukan langkah–langkah lain seperti bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pengembang yang ingin membangun pembangkit EBT.

Putrawan menjelaskan, PLN telah menerapkan Bali Eco Smart Grid dengan tujuan menjaga keandalan dan stabilitas suplai tenaga listrik, meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi CO2. Konsep ini merupakan sistem jaringan listrik yang secara cerdas mampu mengintegrasikan aksi-aksi seluruh komponen yang tersambung di dalamnya mulai dari pembangkit, perangkat transmisi, distribusi hingga konsumen sehingga dapat menghantarkan listrik dengan lebih efisien, berkelanjutan, ekonomis, aman dan keandalannya tinggi.

“Adanya pilihan dari pembangkit terutama yang terbarukan dalam smart grid ini memungkinkan pembangkit-pembangkit terbarukan masuk ke dalam sistem secara on-grid sehingga pilihan pembangkit lebih beragam. Konsumen dimungkinkan membangkitkan listriknya sendiri misalnya dengan menggunakan PV Rooftop dan terjadi proses transaksi saling mengisi secara offset,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN