Peluang Ekspor Produk Pertanian Bali Kian Terbuka

Di tengah pandemi Covid-19 ekspor beberapa produk pertanian lokal mulai terbuka. Setelah manggis, ada pula mangga, buah naga, salak hingga pisang.

Denpasar (bisnisbali.com) –Di tengah pandemi Covid-19 ekspor beberapa produk pertanian lokal mulai terbuka. Setelah manggis, ada pula mangga, buah naga, salak hingga pisang.

Petani asal Klungkung, Nengah Sumerta saat dihubungi via telepon belum lama lama ini mengatakan, sejak awal September lalu, sudah ada permintaan untuk pengiriman bahan pangan ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah. “Selama ini Arab Saudi sangat bergantung pada pasokan bahan pangan dari beberapa negara di Asia dan Eropa. Karena adanya kebijakan lockdown di banyak negara, maka Arab Saudi mulai melirik hasil pertanian Bali untuk memenuhi kebutuhan pangannya,” jelasnya.

Sumerta mengakui, pengembangan lahan pertanian dengan jenis varietas yang diminati pasar ekspor sangat potensial. Apalagi saat ini beberapa komoditi seperti pisang, buah naga dan mangga yang merupakan hasil pertanian di Bali sudah berhasil dikirim ke beberapa negara tujuan ekspor, seperti Arab Saudi, Ceko dan beberapa negara di kawasan Eropa.

Terkait produk pangan ini, Sumerta menjelaskan, saat ini Provinsi Bali memiliki beberapa kawasan untuk pengembangan produk pangan ini. Seperti perkebunan pisang seluas 23 hektar yang tersebar di Kabupaten Jembrana dan Buleleng. Selanjutnya, perkebunan buah naga seluas 17 hektar di beberapa kabupaten di Bali dan sekitar 10 hektar perkebunan mangga. “Dengan kondisi saat ini, hasil perkebunan atau pertanian asal Bali sangat potensial untuk dikembangkan, sehingga perekonomian Bali tidak bergantung penuh pada industri pariwisata,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Forum Petani Muda Bali A.A. Gede Agung Wedhatama P. Belum lama ini pihaknya telah berhasil melakukan ekspor tiga jenis buah lokal yaitu mangga, buah naga dan salak, dengan tujuan Eropa. Diungkapkannya, permintaan terhadap buah lokal ini sudah mulai sejak Maret lalu, namun dikarenakan tarif kargo tinggi menjadi kendala ekspor. “Pengiriman ini juga karena kemungkinan buyer nekat mengingat beberapa negara di Eropa mulai krisis pangan,” ujarnya.

Ekspor dengan tujuan Eropa yang menjadi ekspor perdana ini juga dikatakannya akan dilakukan berkelanjutan, rutin setiap minggunya. Dengan ini dia berharap ke depannya tarif kargo bisa turun kembali, sehingga ekspor pun kiat menggeliat. *wid

BAGIKAN