Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Dampaknya bagi Perekonomian Bali

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, M. Setyawan Santoso di Renon,  menyampaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami depresiasi (melemah) menjadi Rp15.770 per dolar AS

Denpasar (bisnisbali.com) –Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, M. Setyawan Santoso di Renon,  menyampaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar mengalami depresiasi (melemah) menjadi Rp15.770 per dolar AS pada 20 Maret 2020 dibandingkan pada 20 Januari 2020 di kisaran Rp13.800 per dolar AS. Pelemahan ini membawa dampak pada perekonomian Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya.

Bagaimana nilai tukar rupah dapat melemah?. Pengamat ekonomi BI ini mengatakan melemahnya nilai tukar adalah fenomena makro.

“Artinya pelemahan ini terjadi secara nasional, tidak hanya di Bali,” katanya.Pelemahan terjadi sebagai dampak dari adanya transaksi-transaksi dalam neraca pembayaran Indonesia melalui dua saluran yaitu transaksi perdagangan dan transaksi modal atau finansial yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah valas atau cadangan devisa. Pelemahan yang bersumber dari transaksi perdagangan (ekspor kurang impor) terjadi akibat melemahnya nilai ekspor yang lebih cepat dibandingkan nilai impor yang mengakibatkan melebarnya defisit neraca perdagangan.

Pelemahan pada transaksi modal terjadi akibat melemahnya arus modal masuk ke Indonesia baik yang berbentuk investasi jangka panjang (foreign direct investment) maupun investasi jangka pendek seperti surat surat berharga (portfolio investment). Selain menunjukkan kinerja perekonomian, kondisi neraca pembayaran juga dipengaruhi oleh faktor non ekonomi berupa situasi geopolitik, iklim investasi, perubahan selera, perubahan tren dan lain sebagainya.

Setyawan mengungkapkandampak dari melemahnya nilai tukar rupiah bagiperekonomian Bali jika melihat berdasarkan data dari berita resmi statistik dari BPS Bali edisi Maret 2020, maka berdasarkan komoditasnya, total impor Bali pada Januari 2020 senilai 23 juta dolar AS, sebagian besar adalah mesin dan peralatan listrik (18 persen). Diikuti mesin dan peralatan mekanik, lonceng, arloji dan perhiasan.

Impor Bali menunjukan kecenderungan melambat di mana pada bulan Desember 2019 tumbuh 23 persen yoy maka pada Januari 2020 tumbuh melambat menjadi 6,1 persen yoy. Meskipun secara keseluruhan impor Bali menunjukkan melambat, namun impor mesin dan peralatan listrik bahkan mengalami kecenderungan  tumbuh sangat tinggi, pada Desember 2019 dan Januari 2020 tumbuh masing masing  220 persen dan 212 persen sehingga komposisinya mencapai 20 persen dari total impor Bali atau senilai 4,6 juta dolar AS.

“Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan Bali pada produk mesin dan peralatan listrik impor sehingga membawa konsekuensi meningkatnya nilai impor yang harus dibayar oleh sektor sektor terkait,” paparnya.

Mesin dan peralatan listrik terkait dengan perlengkapan rumah tangga dan peralatan konstruksi termasuk perumahan dan perhotelan serta sektor perdagangan.*dik

BAGIKAN