Pelaku Usaha masih ”Wait And See”, Gerak Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Merayap

Dimulainya tatanan Bali era baru mulai 9 Juli 2020 diyakini akan membawa perubahan budaya dan pola perilaku yang makin baik ke depannya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dimulainya tatanan Bali era baru mulai 9 Juli 2020 diyakini akan membawa perubahan budaya dan pola perilaku yang makin baik ke depannya. Namun dari sisi pertumbuhan ekonomi, belum bisa dipastikan terdongkrak naik.
Seperti dikatakan Ketua DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (Putri) Bali, IGAA Inda Trimafo Yudha. Kata dia bila berbicara pertumbuhan ekonomi setelah pariwisata ditutup tentu dimulainya tatanan Bali era baru ini akan ada pengaruhnya. Namun bila dibandingkan kondisi sebelum pandemic covid-19, bisa dikatakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Tatanan Bali era baru mulai menggeliat Juli ini setelah masuknya covid yang sejak Maret sehingga pengaruhnya terhadap ekonomi memang akan bergerak namun belum massif atau masih merangkak,” katanya.

Pemilik usaha A True Balinese Experience menerangkan tatanan Bali era baru saat ini belum bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, bukan karena era barunya namun efek yang ditimbulkan dari pandemi. Efek dari pandemi covid-19 sangat berat dirasakan pelaku usaha. Selama ini pelaku usaha dimanjakan transaksi tanpa limit sekarang ada limitasi yang akhirnya mengarah efisiensi productivity.

Selain itu dibukanya sektor pariwisata, kata Geg Inda biasa ia disebut, belum tentu juga pengusaha berani mulai buka usaha. Pelaku usaha akan masih wait and see. Tetapi, tatanan Bali era baru paling tidak pemerintah memberikan pilihan bagi para pelaku usaha untuk membuka atau tidak usahanya.
“Pelaku usaha yang tidak buka usaha tentu juga ada karena mereka berpikir jika buka namun tamu dan transaksi tidak ada sementara pelaku usaha harus mulai membayar staf, listrik, air, biaya operasional dipastikan akan memberatkan. Jika tidak ada pemasukan tentu akan berat,” ujarnya.

Sementara pelaku usaha yang membuka dengan pemikiran daripada nol dan untuk menumbuhkan psikologis bagi staf. Tentunya dengan komitmen dan menyadari keterbatasan masing masing. “Dalam arti asal usaha bisa jalan saja, kalau tidak kapan bisa jalan usahanya,” imbuhnya.
Karena itu progres pertumbuhan masih agak sulit, karena konsumen juga belum tahu pelaku usaha sudah beroperasional mengingat pengusahaa juga masih ragu-ragu. Pelaku usaha belum sempat melakukan promosi-promosi karena sebelumnya belum ada kepastian boleh atau tidak mulai membuka destinasi. “Berbeda bila sudah ada kepastian dari sebelumnya pelaku usaha pada tanggal segini boleh buka sehingga pengusaha jauh hari sudah melakukan promosi,” ucapnya.

Progres pertumbuhan ekonomi juga tergantung kondisi penerbangan apakah penerbangan domestic sudah banyak atau belum. Saat ini sudah mulai menggunakan syarat rapid tes di mana sebelumnya swab yang cukup memebrtakan dari sisi biaya. Harapan kini dengan hanya rapid tes, orang akan berusaha kemabli menjankan bisnis termasuk perjalanan.*dik

BAGIKAN