Pelaku Usaha Harapkan BI 7DRR Pengaruhi Likuiditas Perbankan

Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, I.B. Kade Perdana menyambut positif suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 day reverse repo rate (BI 7DRR) yang kini bertahan 4 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) –Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, I.B. Kade Perdana menyambut positif suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 day reverse repo rate (BI 7DRR) yang kini bertahan 4 persen. Sebagai pelaku usaha, ia berharap dengan BI 7 DRR saat ini setidak-tidaknya GWM diturunkan kembali sehingga perbankan memiliki kelonggaran likuiditas dalam penyaluran kredit.

“Sekaligus juga akan bisa menambah pundi-pundi profitnya dibandingkan ditempatkan di BI sebagai dana idle dan tidak produktif hanya dipakai instrumen yang memperberat perbankan dan dunia usaha dalam situasi seperti ini,” kata mantan Dirut Bank Sinar ini.

Dia menilai, semestinya kondisi saat ini mendapat stimulus berupa bunga yang ringan dengan persyaratan yang lunak dan cepat sehingga para pengusaha bisa segera bangkit dan bisa mengangkat pergerakan perekonomian dalam rangka pemulihan. Dikatakannya, BI 7DRR sebagai bunga acuan BI menggantikan BI rate secara efektif 4 tahun silam (19 Agustus 2016) dalam upaya penguatan operasi moneter untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan yang dipandang dapat secara cepat mampu mempengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil.

“19 Agustus 2020, BI 7DRR terendah yang berada pada level 4 persen. Bertahannya BI 7DRR pada masa bencana wabah penyakit virus Covid-19 membuat perekonomian dunia termasuk Indonesia menjadi rapuh tumbuh kontraksi,” paparnya.

Sementara, beberapa negara ada yang telah mengalami resesi seperti Singapura yang telah mengumumkan negaranya telah dilanda resesi karena secara berturut dalam dua kuartal mengalami pertumbuhan minus (kontraksi). Demikian juga dengan Indonesia pertumbuhan ekonominya pada kuartal II/2020 tidak luput dari kontraksi sebesar 5,32 (yoy) lebih buruk dari kuartal I/2020 yang masih tumbuh positif dikisaran  2,97 persen dan kuartal II/2019 tumbuh mencapai 5,05 persen.

Sebelumnya, Analis Ekonomi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, M. Setyawan Santoso menyampaikan, suku bunga acuan BI harus dapat dimanfaatkan perbankan dengan melakukan penyesuaian business plan. “Salah satunya dengan ekspansi kredit guna memanfaatkan peluang penurunan suku bunga acuan tersebut,” katanya.

Meskipun demikian, kata Setyawan, ekspansi harus dilakukan secara berhati hati dengan tetap memperhatikan faktor 5C yaitu character, credibility, collateral, capacity dan condition of economy. Termasuk prinsip Know Your Customer agar ekspansi kredit tetap disertai dengan tingkat nonperforming loan atau rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali yaitu di bawah 5 persen.

Ia pun menyampaikan, berdasarkan data BI, perkembangan kinerja perbankan di Bali ditandai dengan pertumbuhan jumlah kredit yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan simpanan. Pertumbuhan kredit meningkat dari 4,96 persen pada 2018  menjadi 7,38 persen pada 2019 dengan nilai mencapai Rp 82,3 triliun. Sementara itu, pertumbuhan simpanan juga meningkat dari 7,92 persen pada 2018 menjadi 8,71 persen pada 2019 dengan nilai menembus Rp 101,7 triliun. “Ini artinya masih terbuka lebar peluang bagi perbankan untuk menyalurkan persediaan dana yang melimpah dalam bentuk kredit,” ujarnya.

Ahli ekonomi BI ini menilai, ekspansi kredit ditentukan oleh kebijakan dari individu bank untuk melakukan ekspansi. Dampak dari lebih besarnya dana diterima dibandingkan dengan dana masuk adalah bank melakukan penempatan pada aset aset yang kurang produktif.  Sebaliknya, dari sisi pelaku usaha, dampak dari tidak terpenuhinya permintaan kredit oleh perbankan mengakibatkan pelaku usaha mencari alternatif pembiayaan dari perbankan di luar Bali atau dari institusi nonbank.

“Kondisi ini menyebabkan fungsi intermediasi perbankan di Bali perlu ditingkatkan. Karenanya perbankan harus melakukan penyesuaian business plan dengan ekspansi kredit guna memanfaatkan peluang penurunan suku bunga acuan ini,” ucapnya. *dik 

BAGIKAN