Pelaku Pariwisata Tetap Harapkan Kredit Lunak

Sejumlah pelaku di sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan menyambut baik bantuan hibah yang dialokasikan pemerintah pusat kepada pelaku usaha hotel dan restoran.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah pelaku di sektor pariwisata di Kabupaten Tabanan menyambut baik bantuan hibah yang dialokasikan pemerintah pusat kepada pelaku usaha hotel dan restoran. Betapa tidak, hibah tersebut menjadi angin segar di tengah menurunnya pendapatan usaha karena terdampak pandemi Covid-19.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Tabanan, I Gusti Bagus Made Damara, Jumat (16/10) mengungkapkan, mengenai bantuan hibah kepada pelaku pariwisata di Bali ini baru mengetahui dari media. Sebab akuinya, dari diskusi yang pernah digelar oleh para kalangan pariwisata di Bali, bahwa pelaku pariwisata di Bali justru berharap sekaligus mengusulkan agar pemerintah pusat perlu memberikan bantuan, namun dalam bentuk pinjaman lunak atau soft loan dengan grace period agak panjang seiring dengan dampak pandemi Covid-19 yang berlangsung lama.

“Adanya bantuan hibah pariwisata yang diberikan pemerintah pusat ini memang memberi angin segar bagi pelaku usaha. Namun, kami berharap pemerintah pusat tetap agar bisa memberi bantuan berupa soft loan, seperti yang diusulkan sebelumnya,” tuturnya.

Jelas Damara, soft loan jauh lebih penting bagi pelaku pariwisata di Bali termasuk di Kabupaten Tabanan, ketimbang mendapat bantuan hibah. Sebab asumsinya, jika pelaku usaha pariwisata ini menjalankan usaha hanya bersumber dari bantuan hibah yang diberikan merupakan hal tidak mungkin, karena nominal didapatkan oleh masing-masing pelaku usaha dikaitkan dengan total jumlah usaha yang ada mencapai ratusan kemungkinan dana hibah yang didapat tidak akan banyak.

Bercermin dari itu menurutnya, bantuan dalam bentuk soft loan ini akan lebih tepat dan merupakan murni bisnis, namun ada keberpihakan kalangan perbankan kepada para pelaku pariwisata karena terdampak pandemi Covid-19. Katanya, soft loan nantinya akan menjadi modal kerja bagi para pelaku pariwisata setelah sebelumnya sudah tidak mengantongi pendapatan seiring dengan nihilnya tamu dan juga biaya operasional yang harus ditanggung.

“Modal kerja tersebut nantinya bisa dimanfaatkan untuk perbaikan peralatan yang jadi fasilitas hotel, termasuk melakukan renovasi agar benar-benar siap menerima tamu kembali,” tandasnya.

Meski begitu tambahnya, terkait mekanisme bantuan hibah di kalangan pariwisata, pihaknya masih menunggu menyangkut ketentuan dari penerima hibah yang dibuat oleh pemerintah. Selain itu harapannya, agar mekanisme penyalurannya nanti tidak sampai menimbulkan masalah. *man   

BAGIKAN