Pelaku Pariwisata Khawatir Dampak Pandemi Berkepanjangan

Pandemi Covid-19 yang menjadikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) belum dapat dibuka.

WISATAWAN - Aktivitas wisatawan di salah satu hotel bintang empat di Sanur.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pandemi Covid-19 yang menjadikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) belum dapat dibuka. Hal ini membuat industri pariwisata harus optimal dalam menggarap pasar lokal. Namun, menggarap pasar lokal pun bukan perkara mudah.

Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pemilik hotel bintang empat di wilayah Sanur, Denpasar, I Wayan Agus Adi Putra saat ditemui Sabtu (17/10) Kemarin. Meski sudah berupaya menggarap pasar lokal dengan membuat promo menarik serta tanggapan positif pun datang, penghasilan yang didapat masih belum mampu menutupi biaya operasional. Untuk memenuhi operasional, dia mengaku menggunakan kas internal yang sebelumnya disisihkan setiap bulannya.

Namun dana ini tentunya tidak bisa bertahan lama, karena akan habis dan pandemi Covid-19 belum bisa dipastikan kapan berakhir dan kapan kunjungan wisatawan bisa kembali normal. “Saat ini masih bertahan. Kira-kira sampai semester berikutnya masih aman untuk dana kas ini, namun masih abu-abu juga,” ujarnya.

Agus Adi mengatakan, menutup usaha bukan keputusan yang tepat saat ini, karena jika terlalu lama diam, untuk membuka kembali akan sulit nantinya. Dengan itu pihaknya memilih membuka secara perlahan dengan menyasar wisatawan lokal. “Kita selalu optimis mencari pasar-pasar baru, baik lokal, nusantara ataupun kementerian,” terangnya.

Hal senada diungkapkan pemilik resort di Ubud, Gianyar, Ni Putu Sawitri mengatakan, untuk menutupi oprasional dengan apa potensi yang sudah digarap saat ini tentunya tidak bisa. Terlebih resort yang dimiliki sebelumnya lebih banyak menyasar pasar Eropa dan Amerika, sehingga untuk beralih ke pasar yang sesuai saat ini membutuhkan waktu dan strategi.

Dia pun mengatakan, telah memiliki dana cadangan yang disisihkan dari laba setiap tahunnya. “Namun dengan situasi pandemi berkepanjangan seperti saat ini tentu cadangan dana tersebut tidak akan mencukupi untuk menutupi biaya operasional,” ujarnya. *wid

BAGIKAN