Pelaku Pariwisata Diminta Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Adanya keraguan dari pemerintah untuk membuka Indonesia bagi wisman bisa dipahami.

PARIWISATA - Masyarakat dan pelaku pariwisata Bali mesti makin disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19.  

Denpasar (bisnisbali.com) –Adanya keraguan dari pemerintah untuk membuka Indonesia bagi wisman bisa dipahami. Praktisi pariwisata, Nyoman Astama, Rabu (2/9) mengatakan dengan penundaan pembukaan kedatangan wisman ke Indonesia sampai akhir tahun 2020, masyarakat dan pelaku pariwisata Bali mesti makin disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Ketua IHGMA DPD Bali ini menyampaikan seperti yang sudah dicanangkan, Pemprov Bali berencana reaktivasi pariwisata untuk wisatawan mancanegara pada 11 September 2020. Sebelumnya Bali sudah reaktivasi kegiatan perekonomian termasuk pariwisata bagi masyaralat lokal Bali pada 9 Juli 2020. Ini diawali dengan doa bersama di Pura Besakih pada 5 Juli. Dan dilanjutkan dengan wisatawan nusantara pada 31 Juli 2020.

Astama menjelaskan reaktivasi kegiatan pariwisata Bali ini juga dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Kemenparekraf dan Kemenkes. Bahkan di Bali baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota telah membentuk tim verifikasi untuk melakukan  pengecekan dan verifikasi atas kesiapan bidang pariwisata dalam menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.

Ini semua dilakukan untuk menciptakan dan menumbuhkan kepercayaaan (trust) para wisatawan terhadap destinasi. “Karena kita memahami bahwa semasa covid ini trust is the new currency,” ucap Astama.

Mengikuti perkembangan dan peningkatan kasus Covid-19 di Jakarta dan beberapa daerah lainnya yang menyebabkan keraguan pemerintah untuk melaksanakan program yang telah direncanakan sebelumnya. Ini tentu wajib dipahami segenap stakeholder pariwisata Bali.

Sebagai praktisi dan pelaku pariwisata, Astama mengajak semua pelaku pariwisata tidak hanya berpangku tangan dengan situasi ini. Melainkan memberikan solusi dan masukan yang bisa dilaksanakan berdasarkan fakta di lapangan.

Penanganan pandemi Covid-19 yang dilakukan oleh Gugus/Satuan Tugas Covid Bali menunjukkan hasil yang telah diapresiasi oleh pemerintah pusat karena tingkat kesembuhan lebih tinggi dari kasus baru.  Dengan keterlibatan unsur masyarakat di Bali melalui Satgas Goyong Royong yang dimotori desa adat membantu memonitor dan mengawasi penerapan protokol kesehatan.

Menurut Astama, kalau secara nasional pariwisata mancanegara belum diaktivasi, namun melihat pertimbangan dan langkah-langkah yang telah dilakukan di atas, mestinya pariwisata Bali bisa dibuka untuk wisatawan mancanegara. Akses penerbangan yang mengangkut wisatawan agar langsung dari sumber wisatawan diarahkan menuju Bali. Ini perlu kebijakan berbeda karena situasi berbeda.

Nyoman Astama manambahkan pelaku pariwisata Bali mendukung penerapan sanksi atas pelanggaran protokol kesehatan sesuai Inpres No. 6/2020  dan mesti dijadikan landasan untuk membuat juknis pengawasan di tingkat kabupaten/kota baik untuk pengawasan penerapan di masyarakat maupun secara individu. “Semoga niat pemerintahh untuk menjaga dan melaksanakan keseimbangan antara kesehatan masyarakat dan pemulihan perkenomian rakyat memang benar-benar diimplementasikan,” tambahnya. *kup

BAGIKAN