Pedagang Pasar Kumbasari Beralih ke Penjualan ’’Online’’

Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar pedagang di pasar oleh-oleh khususnya di Pasar Kumbasari menutup dagangannya karena penjualan hampir nihil setiap harinya.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pandemi Covid-19 membuat sebagian besar pedagang di pasar oleh-oleh khususnya di Pasar Kumbasari menutup dagangannya karena penjualan hampir nihil setiap harinya. Beberapa pedagang yang bertahan melakukan bermacam inovasi terutama beralih ke penjualan online dan gencar memasarkan produk di seluruh marketplace yang ada.

Seperti dilakukan salah seorang pemilik kios di Lantai II Pasar Kumbasari, Widya Astuti, yang hingga saat ini tetap beroperasi dan masih mempekerjakan karyawannya. Saat ditemui belum lama ini,  Widya mengaku melakukan beberapa pembatasan dalam upaya memutus penyebaran Covid-19.

Pemilik Toko Dewangga Oleh-oleh ini mengatakan, pihaknya berusaha bertahan dengan memasarkan produk secara online. “Selama pandemi ini, kami memang sempat tutup karena adanya anjuran pemerintah. Setelah dibukanya pariwisata, kami kembali beroperasi. Kami memikirkan karyawan dan tidak mungkin merumahkan mereka semua,” jelasnya.

Bisnis toko oleh-olehnya sangat terdampak akibat pandemi Covid-19. Meski begitu, ia tetap berusaha mempertahankan jenis produk yang dijualnya. Salah satunya menggencarkan pasar online melalui marketplace yang ada di seluruh Indonesia.  Widya juga berusaha meningkatkan ekspor ke pembeli di berbagai negara. “Selama ini kami memang menjadi pemasok untuk produk oleh-oleh khas Bali ke berbagai negara dengan sistem pembelian grosir,” ungkapnya.

Permintaan dari beberapa negara untuk produk oleh-olehnya juga menurun drastis seiring adanya penutupan aktivitas wisata di negara tersebut. Namun, ada beberapa negara yang justru meningkatkan jumlah permintaan, seperti Malaysia, Italia, Meksiko dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah sampai Afrika Selatan.

Menurutnya, peningkatan permintaan ini karena aktivitas wisata di negara-negara tersebut masih ada. “Meskipun ada ketentuan yang ketat untuk melakukan aktivitas wisata, geliat pariwisata di beberapa negara tersebut masih tetap ada, sehingga kami masih bisa mengirim barang ke negara-negara tersebut,” tambahnya.

Produk oleh-oleh yang diminati oleh pembeli dari luar negeri antara lain gantungan kunci, tas blacu, produk ukiran, tas rajut dan produk anyaman bambu. Widya mengaku mampu mengirim produk rata-rata 10 koli ke masing-masing pembeli per dua bulan sekali. *wid

BAGIKAN