Pebisnis Minuman Bertahan di Tengah Pandemi

Di tengah pandemi Covid-19, pebisnis minuman di Bali tetap mampu berproduksi, kendati dalam jumlah tidak maksimal.

BERTAHAN - Pebisnis minuman berupaya bertahan di tengah pandemi dengan menerapkan prokes secara ketat.

Denpasar (bisnisbali.com) – Di tengah pandemi Covid-19, pebisnis minuman di Bali tetap mampu berproduksi, kendati dalam jumlah tidak maksimal. Mereka bertahan dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat mulai dari proses pengolahan hingga pemasaran.

Ida Bagus Rai Budarsa, dari Hatten Wine mengatakan, selama pandemi, pihaknya mengurangi produksi dan menerapkan prokes ketat di kantor, showroom hingga pabrik yang terletak di kawasan Sanur. “Protokol kesehatan yang diterapkan mulai pemeriksaan suhu tubuh, mencuci tangan dan disinfektan, serta wajib memakai masker,” katanya.

Diakuinya, bisnis minuman untuk pasar wisatawan domestik maupun mancanegara secara tidak langsung ikut terdampak pandemi. Kendati demikian, bisnis harus tetap berjalan. Ia pun mengungkapkan, Hatten Wines telah berhasil membuat wine di negeri tropis dengan bahan baku anggur lokal dan berhasil merajai pasar dalam negeri. Hasilnya, tidak kurang dari 1 juta liter wine berhasil diproduksi winery Hatten setiap tahunnya.

Gus Rai, biasa ia disapa, menerangkan, kunci usaha bertahan tentu dari sisi produksi dan penerapan prokes. Prokes lainnya yang diterapkan yaitu untuk karyawan di mana secara rutin melakukan strerilisasi permukaan meja, relling tangga dan tempat lain yang sering disentuh. Setelah karyawan terakhir pulang, seluruh ruangan dilakukan penyemprotan dengan disinfektan.

Begitu pula bagi karyawan yang melakukan perjalanan ke luar kota, setelah kembali harus work from home (WFH) selama satu minggu. “Bila ada karyawan yang merasa tidak sehat, tidak boleh ke kantor. Kami juga melaksanakan rapid  test untuk seluruh karyawan dan swab test untuk karyawan yang reaktif,” tegasnya.

Perusahaan juga mengadopsi sistem kerja baru dengan melakukan semua meeting rutin secara online. Rapat online menjadi kebiasaan baru, sehingga kantor cabang juga bisa ikut rapat dan karyawan yang sedang di luar kantor juga bisa ikut. Penggunaan sistem digital, kata dia, bisa lebih tepat waktu dan lebih efisien. ”Kami juga menyediakan software digital menu yang bisa digunakan oleh customer,” ungkapnya.

Pebisnis minuman jus kesehatan, Ayu Damayanti mengatakan hal sama. Kata dia, pandemi Covid-19 ini permintaan jus kesehatan ada peningkatan seiring mulai tumbuhnya gaya hidup sehat. “Untuk meningkatkan imun, masyarakat selain melakukan olah raga juga mengkonsumsi minuman kesehatan mulai jahe merah hingga aneka juice,” katanya.

Ia menilai, bisnis kini tidak bisa terlepas dari kesehatan. Masyarakat akan tertarik mengkonsumsi produk yang ditawarkan bila pelaku usaha menerapkan prokes. Penerapan prokes kini menjadi jaminan dan kepercayaan bagi konsumen jika produk yang dikonsumsi sehat dan higienis. *dik

BAGIKAN