Pastikan Penyebab Kematian Babi di Jegu, Distan Tabanan Kirim Sampel Darah ke Medan  

Guna memastikan penyebab kematian puluhan babi milik peternak di Desa Jegu, Kecamatan Penebel Tabanan yang mati secara mendadak,

Tabanan (bisnisbali.com) Guna memastikan penyebab kematian puluhan babi milik peternak di Desa Jegu, Kecamatan Penebel Tabanan yang mati secara mendadak, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan melalui Balai Besar Veteriner (BBVET) Denpasar sudah mengirimkan sampel darah ke Medan. Saat ini, untuk hasilnya masih proses menunggu hasil tes laboratorium BBVET Medan.

”Sebelumnya sempat melakukan uji sampel, namun hasilnya masih diragukan karena ada kecenderungan hasil tes tersebut baru mengarah terjangkit virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi. Guna memastikan lagi, apakah positif atau negatif terjangkit ASF, hasil sampel tersebut dikirim ke BBVET di Medan,” kata Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Distan Tabanan, I Wayan Suamba, Rabu (22/1).

Ia mengatakan, dipilihnya BBVET Medan untuk pengecekan sempel darah babi ini, karena terkait pengujian sampel di Indonesia, khususnya penyakit babi memang difokuskan di BBVET Medan sebagai lab rujukan penyakit babi. Nantinya, sembari menunggu keluarnya hasil tes secara resmi dari BBVET Medan, pihaknya mengimbau para peternak babi di Tabanan harus menjaga kebersihan kandang. Salah satunya, dengan melakukan penyemprotan kandang secara berkala menggunakan desinfektan.

”Kami sudah sebarkan cairan desinfektan ini kepada para peternak melalui masing-masing kecamatan guna melakukan pencegahan kematian pada babi ini. Selain desinfektan, peternak juga bisa menggunakan kaporit untuk menjaga kebersihan kandang,” ujarnya.

Selain itu, kata Suamba, terkait upaya pencegahan lainnya adalah para peternak juga harus menjaga sterilisasi kandang. Contohnya, dengan membatasi ruang gerak dari saudagar babi atau tukang tangkap babi untuk keluar masuk areal kandang, karena ada potensi sebagai pengantar atau penyebar virus dari kandang sebelumnya yang didatangi.

“Khusus peternak yang mengalami kematian pada babi, sebaiknya untuk sementara beralih pada pengembangan usaha jenis ternak lain (selain babi) dengan memanfaatkan kandang yang ada. Tujuannya, guna memutus perkembangan virus yang menyebabkan kematian pada babi sebelumnya,” katanya.

Sementara itu, kata Suamba, penyebaran virus pada babi ini tidak semata-mata disebabkan dari penggunaan pakan limbah, seperti yang banyak diperkirakan sebelumnya. Sebaliknya, penggunaan pakan limbah ini justru membuat babi menjadi sehat. Contohnya, peternakan  babi yang ada di Marga. Terpenting penggunaan pakan limbah itu harus dimasak sebelumnya, baru kemudian diberikan kepada babi. *man

BAGIKAN