Pasar Tradisional Berbasis Digital, Dukung Kebangkitan Perdagangan

Selama pandemi Covid-19, pasar sebagai jantung kegiatan ekonomi jual beli sulit terhindar dari keramaian manusia sehingga terkena imbasnya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Selama pandemi Covid-19, pasar sebagai jantung kegiatan ekonomi jual beli sulit terhindar dari keramaian manusia sehingga terkena imbasnya. Dengan pembatasan sosial yang dilakukan dan meningkatnya urgensi faktor contactless, cleanliness, health, safety and environment sustainablity (CCHSE), masyarakat kini cenderung lebih berhati-hati dan beralih ke segala sesuatu serba tanpa kontak fisik atau tatap muka.

“Dari perubahan pola perilaku tersebut, digitalisasi menjadi salah satu cara terbaik untuk terus mendorong roda ekonomi di sektor perdagangan termasuk pasar-pasar tradisional agar tetap berputar,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali Trisno Nugroho di Denpasar, Rabu (31/3).

Menurutnya, konsep besar digitalisasi pada pasar tradisional telah diterapkan di Pasar Banyuasri, Buleleng, yang baru saja direvitalisasi menjadi pasar modern. Digitalisasi di pasar ini meliputi implementasi e-retribusi, e-parking dan cara pembayaran nontunai berbasis QRIS hingga pemanfaatan online platform dan fasilitas kurir daring bekerja sama dengan Gojek.

“Inovasi layanan-layanan ini semuanya mendukung social dan physical distancing karena memfasilitasi transaksi dengan tatap muka tanpa kontak fisik untuk pedagang dan transaksi tanpa tatap muka dengan QRIS TTM untuk pembeli. Semuanya dapat dilakukan hanya menggunakan smartphone,” jelasnya.

Trisno mengungkapkan, di tengah pandemi Covid-19 saat ini, berbagai upaya pemulihan tiada henti telah lakukan bersama melalui berbagai gagasan. Dari aspek kesehatan, pemerintah tengah berupaya mempercepat sekaligus memperluas cakupan vaksinasi Covid-19 kepada seluruh lapisan masyarakat.

Sementara dari aspek ekonomi, pada 26 Maret 2021 telah digelar Investment Forum yang dihadiri oleh para menteri dan duta besar negara asal wisatawan terbesar di Bali untuk semakin meyakinkan bahwa Pulau Dewata siap dibuka kembali dengan penerapan protokol tata kehidupan era baru yang ketat di seluruh sektor sosial ekonomi termasuk pasar.

Lebih lanjut Trisno memaparkan, di era digitalisasi ini opsi pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman dan andal (cemumuah) melalui akselerasi implementasi QRIS di wilayah Bali sangat cepat progresnya dan masuk peringkat tujuh besar nasional. Per 26 Maret 2021, lebih 200.000 merchant di Bali telah merasakan manfaat menggunakan QRIS. Selain higienis dan mudah digunakan, dengan QRIS pedagang tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian dan bebas risiko pencurian atau penemuan uang palsu.

“Selain itu, setiap transaksi yang dilakukan akan otomatis tercatat dalam handphone pedagang sehingga mampu digunakan untuk pengajuan kredit usaha. Tak lupa, QRIS juga menguntungkan karena mengikuti perubahan zaman dan bebas biaya bagi usaha mikro,” pungkasnya. *dik

BAGIKAN