Pasar Murah DKP Bali, Antisipasi Gejolak Harga

Guna mengantisipasi gejolak harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Bali, Jumat (20/12) mulai menggelar pasar murah bertempat di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali.

PASAR MURAH – Pasar murah yang digelar Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Bali, Jumat (20/12).

Denpasar (bisnisbali.com) –Guna mengantisipasi gejolak harga menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Bali, Jumat (20/12) mulai menggelar pasar murah bertempat di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Sembilan kebutuhan pokok dijual dengan harga di bawah harga pasar, sehingga sangat meringankan bagi masyarakat.

 Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. I Wayan Jarta mengatakan, pasar murah memang rutin digelar menjelang hari besar keagamaan dan hari nasional lainnya. Meski saat ini pasokan dan harga kebutuhan pokok di Bali masih aman dan stabil, tetapi pihaknya tetap menggelar pasar murah untuk mengantisipasi gejolak harga. Pasalnya, harga kebutuhan pokok tidak bisa diprediksi kapan akan turun ataupun naik.

“Sasaran kita adalah masyarakat sekitar Kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, masyarakat Sumerta yang populasinya cukup tinggi. Sehingga dapat meringankan beban masyarakat menjelang hari raya, meski sangat sedikit masyarakat Bali yang merayakan Natal. Tapi Bali sering terdampak karena saat Natal, Bali biasanya diserbu oleh wisatawan domestik dan mancanegara,” kata Jarta yang didampingi Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Nyoman Suarta.

Ia mengatakan, pasar murah dikatakan rutin dilakukan dalam rangka mengantisipasi terjadinya fluktuasi harga. “Harga biasanya naik kalau permintaan meningkat atau persediaan terbatas. Tapi dengan kita hadirkan langsung produsen, mereka mampu menjual barang kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah 15-20 persen dari harga pasaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, harga lebih rendah tersebut karena pihaknya memberikan subsidi pada biaya angkut. “Makanya bisa lebih rendah dari harga pasar, karena di sini kita potong dengan memberikan subsidi biaya angkut,” katanya.

Menjelang Nataru, pihaknya mengaku lebih fokus dalam pemantauan harga. “Kami memang melakukan pemantauan harga setiap hari, namun kali ini lebih intensif lagi karena sewaktu-waktu dapat terjadi gejolak harga. Sedikit saja terlambat mengantisipasi maka harga akan melambung,” katanya.

Berdasarkan pantauan, dikatakan harga masih sangat stabil, bahkan ada sejumlah komoditi harga masih berada di bawah. “Biasanya harga yang cepat berfluktuasi adalah cabai dan bawang merah, tapi kalau fluktuasi harga hanya sekitar 5 persen masih wajar mungkin karena sentimen pasar. Batas yang kami berikan adalah 20 persen, kalau mencapai batas itu baru kita harus ambil langkah- langkah,” katanya.

Sementara itu, Staf Kementerian Pertanian, Wiwik yang memantau pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM) mengatakan, pihak kementerian sudah menggelar GPM bersama Dinas Ketahanan Pangan di 9 Provinsi di Indonesia untuk stabilitas harga menjelang Nataru. Secara nasional dikatakan harga masih stabil.

“Tapi saat GPM ini kita berupaya menjual kebutuhan pokok di bawah harga pasar. Kami juga selalu menggelar operasi pasar, sehingga tidak terjadi gejolak harga saat Nataru,” katanya.

Ia menambahkan, yang terpenting sembilan komoditas kebutuhan pokok masyarakat terjaga harganya dan tidak terjadi lonjakan harga. GPM ini dikatakan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah tanah air. Dengan demikian, masyarakat dapat menjangkau kebutuhan pokok tersebut.

Untuk di Bali, pasar murah berikutnya akan dilaksanakan pada Jumat (27/12) dan Sabtu (28/12) di Lapangan Timur Bajra Sandi. *pur

BAGIKAN