Pariwisata Jalan Selama Seni Budaya Bali Ajeg  

Industri pariwisata di Bali akan tetap berjalan sepanjang seni dan kebudayaan Bali tetap lestari atau ajeg.

LOMBA - Perwakilan PKK Desa Adat Subagan saat lomba masatwa Bali.

Amlapura (bisnisbali.com) –Industri pariwisata di Bali akan tetap berjalan sepanjang seni dan kebudayaan Bali tetap lestari atau ajeg. Sebab, kebudayaan Bali merupakan aset daya tarik utama pariwisata Pulau Dewata yang tak ternilai.

Hal itu disampaikan Bendesa Adat Subagan, Karangasem, I Gede Karang, saat membuka Bulan Bahasa Bali di wantilan depan Pura Bale Agung  desa setempat, Minggu (14/2) kemarin.  Dikatakannya, Pemprov Bali sudah  menerbitkan peraturan baik perda maupun pergub agar masyarakat termotivasi dan ikut berpartisifasi untuk bersama-sama mengajegkan seni dan kebudayaan Bali. Sebab, sastra  dan bahasa Bali sangat penting sebagai salah satu ciri khas dan media kebudayaan Bali.

‘’Wilayah Provinsi Bali tidak memiliki pabrik besar, tidak ada industri, tidak ada pabrik semen.  Aset kita yang ternilai dan merupakan warisan para leluhur yakni seni dan kebuayaan Bali. Maka dari itu, kita masyarakat Bali memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk memelihara, membangun  dan melestarikan aset yang ternilai itu tetap ajeg,’’ paparnya dalam kegiatan yang menerapkan protokol kesehatan.

Menurutnya, sepanjang seni budaya Bali masih tetap ajeg, maka dunia pariwisata Bali tetap akan ada dan berjalan.  Sebab, daya tariknya adalah seni dan kebudayaan Bali. Kalau soal keindahan alam,  gedung-gedung yang tinggi dan megah di luar Bali banyak, tetapi seni kebudayaan dan adat istiadat masyarakat yang masih berjalan  sehari-hari dimiliki masyarakat Bali. ‘’Seni dan kebudayaan Bali tersurat dan tersimpan di dalam pustaka lontar-lontar. Masyarakat dan generasi muda sebagai pewarisnya mesti tetap mempelajari dan mampu memahami sastra, huruf dan bahasa Bali,’’ kata Gede Karang.

Ditambahkannya,  generasi muda di Bali kini terbilang lebih beruntung, karena Gubernur Bali sudah menerbitkan payung hukum pelaksanaan Bulan Bahasa Bali termasuk anggarannya, sehingga kegiatan bisa berjalan.  Pihaknya di desa adat juga sangat mendukung dan ikut berupaya menjalankan dharmaning agama dan dharmaning negara. ‘’Cuma maaf, karena masih dalam situasi pandemi Covid, kegiatan mesti dibatasi dalam jumlah peserta. Anggaran juga terbatas, karena situasi ekonomi. Pandemi menyebabkan semua mengalami kesulitan, termasuk sektor pariwisata,’’ paparnya.

Bulan Bahasa Bali di Desa Subagan diisi sejumlah lomba, yakni menyalin aksara latin ke aksara Bali diikuti pelajar tingkat SD, membaca aksara Bali diikuti kalangan remaja dan mesatwa Bali dari kalangan PKK. Kegiatan Bulan Bahasa Bali juga sudah digelar di berbagai desa adat, termasuk di tingkat kecamatan, seperti Desa Adat Kedampal, Perbekelan Datah, Kecamatan Abang, Karangasem. * bud

BAGIKAN