Pariwisata Bali Kritis, ’’Open Border’’ Diharapkan Segera

Pandemi Covid-19 yang sudah hampir satu setengah tahun melanda, membuat pariwisata Bali mati suri.

KUNJUNGAN - Beberapa suport telah diberikan dengan adanya kunjungan tamu domestik. Namun solusi lain yang dibutuhkan Bali adalah kunjungan wisatawan manca negara.

Denpasar (bisnisbali.com) – Pandemi Covid-19 yang sudah hampir satu setengah tahun melanda, membuat pariwisata Bali mati suri. Keadaan kritis saat ini tengah terjadi. Diharapkan keran wisatawan mancanegara (open border) segera dilakukan. Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Bali Dr.Yoga Iswara, BBA., BBM., M.M., CHA Selasa (8/6) kemarin, mengatakan, pada dasarnya pariwisata Bali sudah mati suri sejak Covid-19 melanda. Desember mendatang dikatakannya menjadi batas akhir untuk pariwisata Bali bertahan. “Jika berbicara bertahan sebenarnya sudah tidak bisa lagi. Dan sekarang ini nafas kita sudah benar-benar sesak sekali,” ujarnya.

Mentalitas para pekerja dan pelaku pariwisata dikatakannya sudah sangat terimbas saat ini. Karena mereka dipaksa menjadi pengangguran, namun tetap dibebani dengan biaya sekolah, makan, cicilan dan sebagainya. “Berat sekali, ini yang kita ingin sampaikan. Ini tidak mudah, tapi pasti ada solusi dengan kita bersama. Jadi dengan melakukan verifikasi, sertifikasi vaksinasi bersama-sama, diharapkan ada titik cerah buat Bali,” ungkapnya.

Beberapa suport diakuinya telah diberikan dengan adanya kunjungan tamu domestik. Namun solusi lain yang dibutuhkan Bali adalah kunjungan wisatawan manca negara. “Domestik tetunya sangat membantu sehingga ada pergerakan di pariwsiata. Program WFB juga sangat diparesiasi. Namun the real solution (solusi nyata) untuk Bali adalah open border yang selected (terseleksi), tertaget dengan penerapan CHSE dan manajemen resiko yang aman. Solusi untuk Bali adalah pasar internasional yang aman,” ujarnya.

Saat ini, dikatakannya, okupansi di Bali masih di bawah 10 persen. Bahkan beberapa di antaranya memilih untuk menutup sementara operasionalnya serta ada yang tidak sama sekali melakukan perawatan properti.

Demikian Yoga Iswara mengatakan, ketika border dibuka, pihaknya tidak serta merta berharap okupansi hingga 80 persen. Untuk sementara pada posisi 20-30 persen dikatakannya sudah sangat membantu, setidaknya untuk operasional dan gaji karyawan. “Kita tidak berbicara untung dulu, yang terpenting kita bisa survive bukan minus. Dan karyawan bisa bekerja kembali. Paling tidak 15-20 hari kerja mereka sudah sangat terbantu,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh pelaku pariwisata di wilayah Ubud, I Nyoman Sueca. Menurutnya situasi pariwisata Bali saat ini sangat kritis. Kalau tidak dilakukan tindakan nyata untuk membangkitkan sektor pariwisata Bali maka potensi resesi ekonomi sangat besar dan bisa berakibat sangat buruk untuk Bali. *wid

BAGIKAN