Panen Raya, Pemerintah Jangan Impor Beras

Harga gabah kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Tabanan turun pada musim panen raya saat ini.

PANEN – Petani memanen padi. Saat panen raya, pemerintah diminta tidak impor beras. (foto/eka adhiyasa)

Tabanan (bisnisbali.com) – Harga gabah kualitas gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Tabanan turun pada musim panen raya saat ini. Bercermin dari hal itu, sejumlah petani berharap 1 juta ton beras yang diimpor oleh pemerintah melalui Menteri Perdagangan tak dilakukan atau Bali tidak dialokasikan untuk pendistribusian beras impor di tengah musim panen raya.

“Sekarang harga gabah di tingkat petani sudah turun ke Rp 4.300 per kg dan kemungkinan akan terus menurun seiring musim panen raya yang terjadi,” kata petani padi yang juga Sekretaris HKTI Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Subagia, Selasa (16/3).

Menurutnya, dengan kondisi harga gabah untuk kualitas GKP di tingkat petani yang sudah murah ini, jika nantinya dihantam lagi dengan masuknya beras impor maka pendapatan yang diterima petani pada musim panen ini kemungkinan makin sedikit. Bahkan petani kemungkinan merugi dengan harga jual yang berada di bawah patokan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Maka dari itu dia berharap, di tengah musim panen ini Bali tidak menerima distribusi dari beras impor ini, jika rencana tersebut jadi dilakukan oleh pemerintah.

Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana mengungkapkan, tahun ini perkiraan data luas tanam padi di Tabanan mencapai 3.169 hektar dan dari luasan tersebut perkiraan luas panen padi mencapai 3.389 hektar saat ini. Sentra pertanian padi di Tabanan yang sudah mulai panen diantaranya Subak Gubug, daerah Aseman, hingga Megati. “Hampir di seluruh kecamatan di Tabanan yang sebelumnya melakukan tanam jelang akhir tahun lalu sehingga permintaan akan pupuk bersubsidi cukup tinggi pada saat itu, saat ini sudah memasuki musim panen padi,” ujarnya.

Dia memprediksi, dari luasan tanam tersebut jumlah produksi yang dihasilkan mencapai 210.456 ton GKP. Jika dengan jumlah produksi yang besar tersebut, ditambah lagi dengan masuknya beras impor ke Bali maka akan membuat harga gabah di petani makin hancur.

“Sementara ini Tabanan masih bisa mencukupi kebutuhan beras, bahkan masih mengantongi surplus. Sebab itu, kalau bisa beras impor ini tidak masuk Bali karena akan merugikan petani Tabanan yang merupakan pemasok beras untuk kebutuhan Bali selama ini,” tandasnya.

Dia memprediksi, musim panen raya padi di Tabanan akan berlangsung hingga 2 bulan ke depan. Seiring dengan itu ada potensi penurunan harga gabah di tingkat petani ini akan berlanjut, namun harapannya itu tidak terjadi. *man

BAGIKAN