Panen Raya, Harga Kopi di Tabanan Merosot

Panen raya di tengah pandemi Covid-19 membuat harga kopi dengan kualitas asalan (kopi biji) di tingkat petani di Kabupaten Tabanan jadi turun.

KOPI – Biji kopi yang tengah dijemur.

Tabanan (bisnisbali.com) – Panen raya di tengah pandemi Covid-19 membuat harga kopi dengan kualitas asalan (kopi biji) di tingkat petani di Kabupaten Tabanan jadi turun. Terbaru, harga kopi dengan jenis robusta sudah menyentuh Rp 20.800 per kg.

Petani kopi di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Nyoman Suardana, Minggu (27/9), mengungkapkan, tahun ini harga kopi di tingkat petani sangat murah. Betapa tidak, awal tahun sempat diperdagangkan di kisaran Rp 21.000 per kg, namun dengan dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan dan terjadinya panen raya membuat harga kopi di tingkat petani ini terpuruk ke level Rp 20.800 per kg.

“Tahun ini harga kopi bisa dibilang sangat murah. Namun, petani tidak bisa berbuat banyak,” keluhnya. Mantan Ketua Subak Abian Batur Cepaka ini menyatakan, jika dibandingkan 2018 dan 2019 lalu harga kopi kualitas asalan tahun ini cukup merosot. Sebab, tahun sebelumnya harga kopi pada saat panen raya di tingkat petani biasanya bertahan di kisaran Rp 22.000 per kg sampai Rp 23.000 per kg, namun tahun ini sudah jauh menurun dari kisaran itu.

Begitu pula jika dibandingkan dengan harga kopi yang terjadi pada 2016 lalu yang sekaligus menjadi puncak lonjakan harga dengan sempat mencapai Rp 27.000 per kg untuk kualitas asalan, maka harga kopi tahun ini kondisinya bahkan sangat anjlok. “2016 lalu lonjakan harga saat itu disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan pasar sebagai dampak menurunnya produksi kopi dari sentra penghasil lainnya di tingkat nasional maupun internasional yang diakibat kondisi cuaca ekstrim terjadi saat itu. Sayangnya, tahun berikutnya harga turun dan berlangsung hingga saat ini,” ujarnya.

Di sisi lain, tahun ini penurunan harga kopi ini sebagai dampak pandemi Covid-19 yang membuat turunnya pula permintaan pasar akan kopi di tengah panen raya yang sudah dimulai sejak Agustus lalu. Akibatnya, stok kopi di tingkat petani yang mencapai puluhan ton tidak terserap saat ini.

Itu pula membuatnya terpaksa memberi perlakukan lebih pada kopi yang belum terserap pasar ini dengan tujuan agar tetap terjaga kualitasnya untuk kemudian bisa dijual kembali ke pasaran ketika terjadi permintaan dan harga yang menjanjikan. Akuinya, dengan perlakukan simpan yang baik menggunakan plastik guna menjaga kadar kekeringan kopi, maka kopi dengan kualitas asalan ini akan bisa bertahan hingga dua tahun.

“Meski memiliki umur simpan yang lama, tentunya banyak petani sangat berharap adanya peningkatan permintaan pasar akan kopi, sehingga bisa menopang kebutuhan keluarga,” jelasnya.*man

BAGIKAN