Panen di Tengah Pandemi, Petani Kakao di Tabanan Raup Keuntungan

Tak semua komoditas perkebunan berada dalam kondisi harga merosot pada saat musim panen, khususnya di tengah pandemi Covid-19.

Tabanan (bisnisbali.com) –Tak semua komoditas perkebunan berada dalam kondisi harga merosot pada saat musim panen, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya tercermin dari harga kakao di tingkat petani di Tabanan yang justru mengalami tren lonjakan. Dibandingkan tahun lalu, produksi pada musim panen tahun ini juga lebih tinggi.

Petani kakao sekaligus Ketua Kelompok Tani Buana Mekar, Desa Angkah, Kecamatan Selemadeg Barat, Adi Pertama, Minggu (4/10) kemarin, mengungkapkan, tahun ini harga kakao di tingkat petani pada musim panen masih bagus atau masih menguntungkan petani. Itu tercermin dari harga kakao untuk kualitas non-fermentasi berada di kisaran Rp 31.000 per kg. Sedangkan untuk kakao dengan kualitas fermentasi di kisaran Rp 38.000 per kg.

“Kondisi harga tersebut mengalami tren lonjakan, khususnya untuk kakao kualitas non-fermentasi dari harga sebelumnya yang berada di level Rp 30.000 per kg pada Agustus lalu yang merupakan pertengahan musim panen,” tuturnya.

Kata Adi, musim panen harga kakao tahun ini hampir sama seperti tahun lalu. Bedanya, tahun ini volume produksi kakao di tingkat petani mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Lonjakan harga ini disebabkan oleh serapan pasar untuk kakao di tengah musim panen pada masa pandemi Covid-19 yang masih lancar, khususnya untuk serapan pasar ekspor untuk kakao kualitas non fermentasi.

Pangsa pasar antara kakao non-fermentasi dan fermentasi ini berbeda. Begitu pula buyer atau negara importir dari kakao ini juga berbeda. Yakni, kakao dengan kualitas nonfermentasi dominan terserap ke Amerika Serikat, sedangkan untuk kakao fermentasi dominan terserap ke Eropa selama ini.

Saat ini di Eropa serapan kakao untuk fermentasi ini menurun dari sebelumnya. Itu disebabkan pabrik pengolahan kakao fermentasi di Eropa yang digunakan sebagai bahan baku olahan konsumsi tidak banyak berproduksi saat ini, sehingga serapannya pun menjadi turun. Sementara untuk permintaan pasar kakao non fermentasi ini meningkat dengan diolah untuk kebutuhan non-konsumsi, salah satunya sebagai minyak.

Di sisi lain, kondisi harga kakao yang stabil ini sekaligus membuat banyak petani menjadi lebih bergairah membudidayakan kakao, termasuk dalam upaya melakukan peremajaan tanaman atau rehab kebun kakao yang makin diminati saat ini. Saat ini sebagian besar tanaman kakao di Tabanan sudah berumur tua, sehingga untuk menopang produksi harus dilakukan peremajaan tanaman kembali. “Itu terbukti dari penjualan bibit kakao yang cukup lancar belakangan ini. Harga bibit kakao dengan tinggi 40 cm dan sudah di okulasi berkisar Rp 15 ribu per pohon,” kata Adi yang juga penjual bibit kakao. *man

BAGIKAN