Pandemi Momentum Tingkatkan Pemasaran Produk Lokal

Sektor pariwisata selama ini dinilai belum maksimal dalam berkontribusi kepada masyarakat Bali, terutama pertanian (dalam arti luas) yang masih dihantui kesulitan dalam akses pasar.

Aktivitas pertanian di Bali

Denpasar (bisnisbali.com)-Sektor pariwisata selama ini dinilai belum maksimal dalam berkontribusi kepada masyarakat Bali, terutama pertanian (dalam arti luas) yang masih dihantui kesulitan dalam akses pasar. Untuk itu kedepannya, pariwisata didorong untuk menjadi pasar potensial bagi hasil pertanian masyarakat Bali disamping peluang ekspor yang juga lebih maksimal digarap, dan pandemi covid-19 ini bisa dijadikan momentum perubahan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Bali Wayan Koster pada sebuah diskusi fokus terarah (FGD) dengan tema “Menyeimbangkan Struktur dan Fundamental Perekonomian Bali” belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster menjelaskan, pada kondisi normal (di luar pandemi covid-19) ada 16 juta wisatawan yang datang ke Bali setiap tahunnya, memanfaatkan berbagai fasilitas di Bali, melihat kebudayaan Bali dan makan di restoran di Bali. “Jadi jika sampai pasar yang ada ini tidak diberdayakan, itu kebangetan yang akan dimanfaatkan orang luar. Darimana datangnya beras, daging, telur, buah? Jadi ini harus dibangun dari segala aspek,” ungkapnya di depan undangan yang hadir.

Diterbitkannya Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, dikatakannya untuk mengatur pertanian dari hulu ke hilir. Terutama mendukung suplai produk pada industri pariwisata (hotel dan restoran). Pandemi covid-19 ini dikatakannya sebagai momentum untuk didorongnya pemanfaatan produk lokal tersebut yang 2021 mendatang harus lebih keras untuk menyasar industri pariwisata. “Kita perlu lebih tahu pasokan di hotel-hotel ini darimana datangnya. Jangan sampai wisatan yang tertarik datang ke Bali makannya malah datang dari luar,” ungkapnya.

Demikian dikatakan Gubenrur Koster, petani jika ditanyakan merasakan manfaat dari pariwisata Bali, sebagian akan menjawab tidak. Hal ini terbukti saat panen jeruk di Kintamani harga anjlok, demikian pula salak di Karangasem, rambutan di Buleleng dan sebagainya. “Petani sampai tidak berani metik, karena ongkos petik lebih mahal dari harga jual,” ujarnya.

Untuk itu, orang nomor satu di Bali ini berharap petani dibina dari hulu hingga hilir. Jangan sampai saat sudah dibina namun ketika ada produksi jadi tidak terurus. Kedepan, Gubernur Koster mengatakan pasar produk pertanain akan lebih dikembangkan. Pertama memenuhi pasar domestik yaitu untuk masyarakat Bali, kedua memenuhi kebutuhan wisatawan yang datang ke Bali, ketiga mengembangkan kerjasama antar daerah dan keempat ekspor akan lebih didorong.

Sementara itu, pelaku pertanian yang Ketua Forum Petani Muda Bali (Komunitas Petani Muda Keren) AA Gede Agung Wedhatama P mengatakan,  di tengah pandemi covid-19 yang menurukan suplay produk pertanain ke pasar lokal baik itu ke sektor pariwisata, pasar ataupun swalayan membuat pasar ekspor harus digarap lebih maksimal. Dia mengakui peluang ekspor produk pertanian lokal cukup tinggi di tengah pandemi covid-19 ini. “Permintaan produk pertanian cukup tinggi di tengah pandemi covid-19 ini. Termasuk dari negara-negara Timur Tengah, Eropa, Australia bahkan Amerika,” jelasnya.

Demikian pula disebutkannya, permintaan pada komoditi baru juga menggeliat, seperti vanila dalam bentuk olahan, buah-buahan, jagung dan ubi-ubian. Pihaknya optimis jika kedepan ekspor produk pertanian Bali akan lebih menggeliat. “Tapi kita harus menunggu distribusi bisa lancar dan harga lebih murah,” ungkapnya. *wid

BAGIKAN