Pandemi, Konsumsi Listrik Turun 9,53 Persen

PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat, secara komulatif hingga September 2020 konsumsi listrik di Bali minus 9,53 persen.

PLN - Petugas PLN sedang melakukan pengecekan meteran listrik.

Denpasar (bisnisbali.com) PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat, secara komulatif hingga September 2020 konsumsi listrik di Bali minus 9,53 persen. Hal ini dipengaruhi matinya sektor pariwisata yang menjadi pelanggan tarif bisnis dengan konsumsi listrik tertinggi selama ini.

Manajer Komunikasi PLN UID Bali I Made Arya saat ditemui, Selasa (13/10) kemarin, mengatakan, pertumbuhan konsumsi listrik pada pelanggan tarif bisnis tahun 2020 mengalami kontraksi (minus) 26,5 persen. Pada Sepetmber 2019, konsumsi listrik pada pelanggan dengan tarif bisnis mencapai 1.992.123.833 kWh, sementara pada bulan yang sama tahun 2020 turun menjadi 1.464.196.678 kWh.  Selain pada pelanggan tarif bisnis, konsumsi pelanggan tarif industri juga mengalami penurunan hingga 5,1 persen dan pelanggan tarif sosial turun 1,3 persen.

Selama ini, kata Made Arya, konsumsi listrik tertinggi datang dari pelanggan tarif bisnis yang selanjutnya disusul tarif rumah tangga. Dilihat dari penjualan listrik per September 2019, pada pelanggan tarif bisnis penjualan mencapai 1.992.123.833 kWh, sementara tarif rumah tangga yaitu 1.697.855.268 kWh. Dengan tidak beroperasinya industri pariwisata di tengah pandemi ini memberi pengaruh cukup besar pada tingkat konsumsi listrik secara komulatif di Bali.

Demikian dilihat dari beban puncak di tengah pandemi covid-19 juga mengalami penurunan. Terendah terjadi pada bulan Juli mencapai 631,7 mega watt (MW) “Sebelum pandemi beban puncak tertinggi di Bali terjadi pada bulan Januari yaitu mencapai 980,1 MW. Maret turun menjadi 895,5 MW dan April turun drastis yaitu 725,9 MW,” ujarnya.

Made Arya menjelaskan, konsumsi listrik pada pelanggan rumah tangga mengalami kenaikan 8 persen year to year (yoy) pada September. Namun, pertumbuhan konsumsi listrik pelanggan rumah tangga belum mampu menutupi secara komulatif, meski jumlah pelanggan rumah tangga tertinggi yaitu 82,66 persen. Sementara persentase pelanggan bisnis hanya 11,22 persen. *wid

BAGIKAN