P2L Wujudkan Pemanfaatan Pangan Lokal

Pengembang Pangan Lestari (P2L) yang dilaksanakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bergandengan dengan Tim Penggerak PKK Provinsi Bali tahun ini menyasar 42 kelompok P2L yang tersebar di seluruh Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) –Pengembang Pangan Lestari (P2L) yang dilaksanakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali bergandengan dengan Tim Penggerak PKK Provinsi Bali tahun ini menyasar 42 kelompok P2L yang tersebar di seluruh Bali. Program ini untuk mencapai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dicanangkan Gubernur Bali Wayan Koster, yaitu dari sisi pemanfaatan pangan lokal.

Kabid Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Ir. I Nyoman Suarta, M.Si., Selasa (11/2) kemarin mengatakan, P2L yang sebelumnya adalah kawasan rumah pangan lestari (KRPL) berjalan kontinyu dari 2017 dan hingga 2019 sudah terbentuk 108 kelompok. Tahun ini akan diberikan bantuan kepada 42 kelompok sehingga akan tercapai 150 kelompok.

“Kita sasar di daerah – daerah stunting, yaitu kantong – kantong kemiskinan sehingga pemanfaatan pekarangan bisa lebih maksimal, bukan dari segi pendapatan itu saja. Rumah juga menjadi lebih hijau, pekarangan lebih bersih dan pemanfaatan limbah,” paparnya.

Awalnya program ini untuk mengendalikan inflasi akibat harga cabai yang kerapkali melambung saat menjelang hari raya. Masing-masing kelompok mendapatkan bantuan Rp50 juta untuk pembuatan rumah bibit dari baja ringan, prasarana pembibitan dan proses pembibitan. “Dengan adanya program ini harga cabai yang melambung bahkan hingga Rp100 ribu per kilogram tidak membuat masyarakat resah karena telah miliki pohon cabai di pekarangan masing-masing,” tukas Suarta.

Melihat program yang sukses menekan inflasi dan mencegah kepanikan masyarakat, Bali yang sebelumnya memiliki 108 KRPL yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota dengan total anggota kurang lebih 3.000 KK tahun ini akan dikembangkan kembali. Pada program ini masing-masing anggota didorong untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam kebutuhan dapur mulai dari cabai, terung hingga tomat dan sayur-sayuran. ”Setiap anggota akan mendapatkan bibit untuk ditanam di pekarangan dari rumah bibit yang dibentuk. Pengembangan bibit sesuai potensi lokal masing-masing,” ungkapnya.

Untuk ke depan, program P2L ini akan dikembangkan dari tahap penumbuhan ke tahap pengembangan pangan. ”Tahap pengembangan pangan ini sesuai dengan visi Bapak Gubernur dalam pemanfaatan pangan lokal. Jadi dari komoditi yang ditanam anggota tidak hanya untuk konsumsi pribadi tetapi juga dijual ke swalayan ataupun toko modern atau dapat juga dilakukan pengolahan pascapanen terlebih dahulu, seperti Bangli yang terkenal dengan tumbuhan keladi ungu, maka anggota akan didorong menanam keladi tersebut dan kemudian anggota didorong untuk mengolahnya menjadi produk olahan yang lebih bernilai jual,” tukasnya.

Jadi ada upaya untuk melakukan pengolahan, sehingga pangan lokal makin tahun makin bertambah. “2021 akan dirancang untuk produk pangan olahan tersebut, sehingga bisa tembus ke pasar oleh-oleh, dan supermarket. Jadi untuk tahap pengembangan ini perlu penambahan anggota kelompok sebanyak 15 KK yaitu dari 30 KK menjadi 45 KK per kelompok,” pungkas Suarta.

BAGIKAN