Omzet Pedagang Turun Perumda Pasar Tak Capai Target  

Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar yang mengelola 16 pasar tradisional mencatat pencapaian kurang dari target tahun 2020.

TUTUP - Banyak kios tutup di Pasar Kumbasari akibat pandemi Covid-19.

Denpasar (bisnisbali.com) –Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar yang mengelola 16 pasar tradisional mencatat pencapaian kurang dari target tahun 2020. Tidak tercapainya target ini dikarenakan turunnya omzet pedagang sebagai dampak pandemi Covid-19 yang berimbas pada pembayaran sewa kios dan los.

Dirut Perumda Pasar Sewakadharma Kota Denpasar I.B. Kompyang Wiranata menyatakan, target pencapaian tahun 2020 mencapai Rp 47,2 miliar, sedangkan realisasi pencapaiannya hanya Rp 43,7 miliar. “Ini dikarenakan banyak pedagang yang nunggak membayar sewa kios dan los akibat pandemi Covid-19,” ujarnya, Selasa (9/2) kemarin.

Menurutnya, omzet pedagang di pasar tradisional yang hingga 50 persen membuat pedagang kewalahan dalam membayarkan kewajibannya, terutama sewa kios dan los. Ditambah lagi kunjungan ke pasar tradisional juga menurun hingga 40 persen di tengah pandemi Covid-19.

Kondisi terparah dialami Pasar Kumbasari di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Persentase penurunannya mencapai 70 persen imbas dari Covid-19. Sebelum Covid-19, omzet pedagang di dalam gedung Pasar Kumbasari dari lantai 1 sampai lantai 4 mencapai kisaran Rp 1 miliar. Namun, semenjak pandemi Covid-19, omzet seluruh pedagang Pasar Kumbasari per harinya menurun drastis mencapai Rp 340 juta.

Kompyang Wiranata yang akrab dipanggil Gus Kowi menjelaskan, sebelumnya Pasar Kumbasari selalu ramai oleh kedatangan wisatawan mancanegara yang berbelanja. Tetapi karena pandemi, wisatawan hampir satu pun tidak ada yang ke Pasar Kumbasari. Padahal pasar tersebut khusus menjual pernak-pernik kerajinan tangan.

Penurunan kunjungan tersebut membuat pedagang di Pasar Kumbasari banyak yang nunggak membayar sewa kios dan los. Bahkan, Biaya Operasional Pasar (BOP) juga banyak yang belum dibayarkan. Hal itu membuat pedagang banyak yang memiliki tunggakan yang harus dibayar.

Gus Kowi menambahkan,  seluruh pasar di Kota Denpasar memiliki tunggakan sebesar Rp 4 miliar. Mereka diwajibkan membayar karena semua terdata dan tercatat. “Kami akan berupaya memberikan keringanan pada mereka. Tetapi kami juga tak bisa menghapus karena semua tercatat. Yang jelas kami memberikan keringanan paling sebatas proses pembayarannya bisa dicicil,” jelasnya.

Tunggakan itu khusus untuk pedagang dalam gedung. Di dalam pelataran, omzet rata-rata pedagang masih stabil. Jadi, untuk menutup operasional pasar selama Covid-19 ini hanya dari pedagang di pelataran. *wid

BAGIKAN