Okupansi Hotel di Bali Memprihatinkan

Kondisi hotel di Bali terutama dalam menyambut libur Hari Raya Lebaran masih sangat memprihatinkan.

SEPI – Suasana salah satu hotel tampak sepi selama Pandemi Covid-19, Okupansi hotel masih single digit di wilayah Kuta, Seminyak dan Ubud. (foto/eka adhiyasa)

Mangupura (bisnisbali.com) – Kondisi hotel di Bali terutama dalam menyambut libur Hari Raya Lebaran masih sangat memprihatinkan. Seminggu lebih menjelang Idul Fitri saat ini, tingkat okupansi hotel masih belum ada perubahan sama sekali.

“Okupansi hotel masih kebanyakan single digit di wilayah Kuta, Seminyak dan Ubud,” kata Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Akomodasi dan Pengembangan Pariwisata, Dr. (C) I Made Ramia Adnyana, S.E., M.M., CHA. di Kuta, Selasa (4/5).

Wakil Ketua PHRI dan BPPD Badung ini mengatakan sepinya tingkat okupansi bisa dilihat dari tren booking di reservasi. Keadaan yang berlangsung ini diperkirakan juga dampak dari imbauan untuk tidak mudik dari pemerintah.

“Awalnya kami berharap di libur Lebaran kita bisa panen dari pasar dometik yang berlibur ke Bali dan merupakan starting point yang bagus sebelum border internasional di buka di bulan Juli 2021,” ujarnya.

Namun harapan itu kini hilang karena kondisinya akan sama seperti kondisi sebelumnya yaitu hotel-hotel pada kosong. Kendati demikan Ramia mengakui sangat memahami langkah strategis yang diambil pemerintah terkait larangan mudik yaitu dalam rangka menekan pandemi Covid-19 . Termasuk jangan sampai terjadi seperti di India dan beberapa negera lainnya.

Ketua DPD Masata Bali ini pun menyebutkan dengan bercermin kondisi pariwisata jelang Hari Raya Lebaran ini maka estimasi sementara kondisi bisnis pada 2020 dan 2021 masih kurang lebih sama. Walaupun ada kenaikan sedikit namun pendapatan belum mampu meng-cover expanses yang dikeluarkan sehingga masih rugi (lost).

Sementara itu pengelola hotel lainnya Irmayuni mengatakan untuk pembatalan reservasi hotel selama libur Lebaran sudah ada terjadi. Total data pembatalan hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan pastinya. Ia berharap meskipun pemerintah melakukan pengetatan perjalanan dalam negeri, sektor wisata tetap diperbolehkan untuk beroperasi pada saat masa libur Lebaran.

Sebelumnya Mantan Ketua BHA I Made Ricky Darmika mengatakan hal sama. Ia menyatakan jumlah wisdom yang turun drastis membuat okupansi hanya satu digit dari sebelumnya mencapai dua digit. Meskipun mengalami penurunan, pihaknya menilai kondisi saat ini masih lebih baik dibandingkan pada awal-awal pandemi Covid-19 di 2020.

“Untuk hotel jelas okupansi menurun saat Lebaran namun masih ada satu dua wisdom jenis keluarga, pasangan yang berkunjung ke Bali untuk menikmati liburan,” paparnya. *dik

BAGIKAN