Objek Penglipuran Ditutup Dua Pekan

Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran virus corona, pengelola objek wisata Penglipuran Bangli menggelar paruman yang langsung dipimpin oleh Bendesa Adat Pengelipuran I Wayan Supat.

Bangli (bisnisbali.com) –Untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran virus corona, pengelola objek wisata Penglipuran Bangli menggelar paruman yang langsung dipimpin oleh Bendesa Adat Pengelipuran I Wayan Supat. Dengan berbagai pertimbangan, utamanya kekhawatiran masyarakat akan penyebaran covid-19, akhirnya paruman memutuskan untuk menutup objek pariwisata Desa Penglipuran selama 2 pekan atau 14 hari, terhitung sejak 18-30 Maret 2020.

Menurut pengelola objek wisata Penglipuran, Nengah Moneng, apa yang menjadi kekhawatiran warganya tentu akan menjadi prioritas dan dasar pertimbangan penutupan kawasan desa wisata ini. “Krama kami yang memiliki home stay tidak berani menerima tamu. Selain itu, beberapa usaha warga juga tutup sementara sehingga pengelola harus mengambil keputusan cepat, untuk menutup objek wisata ini sementara waktu,” terangnya.

Keputusan ini juga didukung pihak desa adat dengan langsung mengadakan parum untuk mencari solusi terbaik. Dalam paruman tersebut terungkap, ada tiga opsi yang menjadi pembahsan. Pertama objek wisata desa tradisional Pengelipuran tetap dibuka seperti biasa. Opsi kedua objek wisata Pengelipuran ditutup total untuk sementara waktu, dan opsi terakhir adalah objek wisata tetap dibuka namun pengunjung tidak diizinkan masuk ke rumah warga.

“Dari opsi yang menjadi pembahasan, apabila yang pertama kita pilih tentu kami pengelola harus menyipkan masker dan hand sanitaizer, namun meski kita telah berusaha untuk membeli kita tidak mendapatkan barang yang kita cari. Akhirnya karena berbagai kendala yang kita jumpai dari ketiga opsi tersebut hanya opsi kedualah yang paling aman untuk kita laksanakan. Dengan ditutup sementara, tentu kita akan merasa aman dan masyarakat Penglipuran pun tidak perlu khawatir dengan penyebaran virus ini,” terang Nengah Moneng.

Pihak pengelola juga sudah melaporkan keputusan penutupan objek wisata ini kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli, serta telah menyebarluaskan informasi penutupan ini melalui media sosial dan media media lainnya. Disinggung mengenai konsekuensi penutupan ini, Nengah Moneng mengaku tidak memungkiri akan berakibat pada tidak adanya pemasukan selama ditutupnya objek wisata ini. Namun yang paling penting yang menjadi pertimbangan adalah keamanan dan keselamatan masyarakat setempat.

Rata-rata kunjungan perhari dalam kondisi normal di objek wisata Pengelipuran adalah 700 orang yang terdiri atas 300 orang wisatawan asing, serta 400 orang wisatawan domestik, maka apabila sehari saja objek wisata tersebut ditutup, dengan nilai tiket masuk beragam antara wisatawan asing dan domestik serta dari kelas umur yang berbeda maka perkiraan kerugian adalah Rp16 juta lebih. Angka tersebut belum termasuk parkir. Apabila ditutup hingga dua pekan, kerugian yang ditafsir adalah sekitar Rp 227 juta. *ita

BAGIKAN