Nyoman Rupadana, Garap Pasar Online

LESUNYA sektor pariwisata menyebabkan turunnya kunjungan wisatawan ke art shop-art shop di Desa Celuk, Sukawati, Gianyar.

LESUNYA sektor pariwisata menyebabkan turunnya kunjungan wisatawan ke art shop-art shop di Desa Celuk, Sukawati, Gianyar. Menyikapi turunnya permintaan kerajinan perak, pemerintah dan masyarakat Desa Celuk bersinergi menggarap pasar online.

Menurut Perbekel Desa Celuk, Nyoman Rupadana, masyarakat Desa Celuk telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keberadaan BUMDes ini diharapkan dapat memberikan pemecahan terkait turunnya permintaan kerajinan perak di Desa Celuk.

Dijelaskannya,  turunnya pendapatan masyarakat akibat pandemi Covid-19 menyulitkan perajin perak menggarap pasar lokal. Untuk itu, perajin perak Celuk berupaya menggarap pasar domestik dan pasar mancanegara. Guna menggarap pasar domestik di luar daerah dan pasar mancanegara, masyarakat Celuk mesti mengubah pola pemasaran. Selama ini perajin di Celuk lebih mengandalkan wisatawan yang datang ke desanya.

‘’Saat pandemi Covid-19, jarang ada wisatawan yang mengunjungi Desa Celuk akibat lesunya sektor pariwisata. Dengan mengandalkan BUMDes, pemerintah mengajak seluruh masyarakat Celuk yang menjadi perajin perak menggarap pasar online,” jelas Rupadana.

Pemasaran produk perak Celuk melalui BUMDes melibatkan kaum milenial di Desa Celuk. Mereka yang sudah mampu menggarap pasar online secara mandiri, juga membantu pemasaran perajin perak yang lain melalui BUMDes Celuk.

Nyoman Rupadana menegaskan, sebagai proyek percontohan 2021, pemerintah desa dan masyarakat Desa Celuk bersinergi mengoptimalkan peran BUMDes memasarkan produk kerajinan perak secara online. Dana desa juga dioptimalkan memperkuat permodalan BUMDes, pelatihan SDM dan menguatkan sarana TI untuk memudahkan pemasaran kerajinan perak. *kup

BAGIKAN