Nyoman Ariadi, Dihantui Penyelundupan Babi

MENGEMBALIKAN populasi babi di tingkat peternak yang telah mengakibatkan lonjakan harga cukup signifikan,  dibutuhkan waktu lama bahkan bisa mencapai dua tahunan.

MENGEMBALIKAN populasi babi di tingkat peternak yang telah mengakibatkan lonjakan harga cukup signifikan,  dibutuhkan waktu lama bahkan bisa mencapai dua tahunan. Seiring dengan itu, potensi penyelundupan babi dalam bentuk karkas (daging) ke Bali makin tinggi lantaran tingginya kebutuhan untuk konsumsi dan upakara.

 “Saat ini karena harga babi mahal membuat kalangan peternak bisa menikmati dan mensyukuri keuntungan yang didapat. Namun, kami tetap berupaya lakukan pencegahan mengantisipasi munculnya kasus yang sama seperti tahun lalu,” tutur Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gubi) Bali Nyoman Ariadi.

Diterangkannya, mengembalikan populasi babi ke posisi semula sekaligus sebagai upaya menekan harga di pasaran, dibutuhkan waktu hingga dua tahun. Asumsinya, saat ini peternak sudah ada yang kembali beternak babi, tetapi baru tahap mencoba dengan jumlah tidak banyak karena masih dihantui ancaman kematian mendadak. Selain itu, modal yang dimiliki peternak tidak banyak.

Sementara peternak yang sudah trauma karena terdampak kasus kematian babi tahun lalu, kemungkinan besar tidak mencoba lagi beternak babi. Mengacu faktor tersebut, selama populasi babi belum bisa mencapai posisi normal atau seperti sebelumnya, maka selama itu pula harga babi tetap mahal.

Saat ini harga babi di tingkat peternak bervariasi tergantung kualitas yakni berkisar Rp 48.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Sementara babi kualitas daging super yang dijual di pasar tradisional mencapai Rp 100.000 per kilogram. Harga ini menguntungkan peternak, namun di balik itu peternak dihantui rasa waswas akibat meningkatnya potensi penyelundupan daging babi ke Bali.

“Penyelundupan daging dari luar berisiko kembali meningkatnya kasus kematian secara mendadak seperti tahun lalu. Sebab, kasus yang sama terjadi di Jawa dan sangat mungkin perdagangan daging babi secara ilegal akan membawa pula masuknya virus ASF ke Bali,” kilah Nyoman Ariadi.

Bila daging babi yang masuk ke Bali terkontaminasi virus ASF, berpotensi memunculkan kasus ASF gelombang kedua  nantinya. Oleh sebab itu, ia menyarankan pemerintah mengantisipasi hal tersebut. *man     

BAGIKAN