NPL Tinggi, BPR harus Evaluasi Strategi Penyaluran Kredit 

STRATEGI - OJK mengarahkan komisaris dan direksi BPR membuat strategi jitu dalam menangani NPL.

Denpasar (bisnisbali.com) –Angka rata-rata kredit bermasalah (NPL) BPR di Bali mencapai 8,8 persen lebih tinggi dari rata-rata NPL nasional. Tingginya angka NPL, BPR harus mengevaluasi langkah penanganan NPL dan mengevaluasi strategi penyaluran kredit.

Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan I OJK Regional 8 Bali dan Nusra, Armen, Jumat (13/12) mengatakan, NPL BPR di Bali bervariasi ada di bawah 5 persen. Bahkan, ada NPL BPR di Bali mencapai 10-20 persen. “NPL BPR bisa mencapai 20 persen mesti dipertanyakan apakah tidak salah strategi,” katanya.

Ia menjelaskan, NPL tinggi terutama disebabkan karena faktor sumber daya manusia (SDM) BPR yang salah satu menerapkan strategi dalam penyaluran kredit. Untuk itu BPR harus mengevaluasi strategi penyaluran kredit.

Ia memaparkan, untuk menekan angka NPL, BPR juga harus mengevaluasi langkah-langkah dalam menurunkan angka kredit bermasalah. Kredit yang masuk dalam katagori NPL harus dipilah dalam tiga kelompok.  Kelompok kredit bermasalah yang angsuran kreditnya masih mudah ditagih,  kelompok NPL setengah mudah ditagih dan kelompok NPL yang sulit ditagih. “NPL yang bisa ditagih harus terus dibina sehingga menjadi lancar,” katanya.

Ia mengatakan, untuk menurunkan angka NPL BPR tentu memiliki strategi masing-masing. Ketika NPL masih tinggi, harus mengubah pola dan strategi sehingga lebih jitu mengurangi kredit bermasalah.

Armen mencontohkan, sebelumnya penyaluran kredit selalu mengacu hanya pada jaminan kredit. Saat ini pengajuan kredit tidak hanya pada jaminan kredit melainkan sudah pada kemampuan calon debitur dalam membayar angsuran kredit. *kup

BAGIKAN