NPL Tinggi, BPR Dituntut makin Dekat dengan Debitur

Di tengah kondisi perlambatan ekonomi, bank perkreditan rakyat (BPR) masih dihadapkan dengan kredit bermasalah atau NPL di atas 5 persen.

BPR - Pelatihan mendorong SDM BPR makin dekat dengan debitur bermasalah.

Denpasar (bisnisbali.com) –Di tengah kondisi perlambatan ekonomi, bank perkreditan rakyat (BPR) masih dihadapkan dengan kredit bermasalah atau NPL di atas 5 persen. Oleh karena itu, BPR dituntut makin dekat dengan debitur.

Praktisi ekonomi, Prof. Dr. Nyoman Suparta, Minggu (8/12) mengatakan, ketika masih dihadapkan NPL tinggi, BPR wajib memiliki strategi jitu untuk mendorong debitur memperlancar pembayaran angsuran kredit. “SDM BPR wajib memiliki seni masing-masing guna menagih angsuran kredit yang belum dibayar debitur,” katanya.

Komisaris BPR Partha ini menjelaskan, ketika debitur menghadapi kredit bermasalah, BPR harus makin dekat dengan debitur tersebut. “Hal ini mesti melalui pendekatan pribadi, dan komunikasi intensif antara SDM BPR dan debitur,” katanya.

Ia memaparkan, upaya pembinaan BPR kepada debitur bermasalah diikuti pengeluaran SP1, SP2 dan akhirnya SP3. Penjualan agunan, diambil ketika debitur tidak bisa melalui proses pembinaan.

NPL terjadi akibat debitur tidak mampu lagi membayar utangnya. “Langkah BPR adalah memampukan diri untuk menagih angsuran kredit dari debitur,” katanya.

Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali dan Nusa Tenggara, Rochman Pamungkas mengatakan, secara komposisi, penyaluran kredit BPR di Bali didominasi kredit produktif yaitu sebesar 62,76 persen (Rp7 triliun), yang terdiri dari kredit modal kerja sebesar Rp5,3 triliun dan kredit investasi sebesar Rp1,7 triliun.

Rasio NPL BPR di Bali sebesar 8,28 persen di September 2019. Kontribusi terbesar NPL BPR saat ini berasal dari sektor perdagangan besar dan eceran yaitu sebesar Rp374 miliar dengan share NPL 40,46 persen dari total kredit non performing, sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar Rp245 miliar dengan share NPL 26,5 persen dari total kredit non performing. Sektor real estate sebesar Rp77 miliar atau 8,35 persen dari total kredit non performing.

Rochman Pamungkas menegaskan, NPL yang tinggi mempengaruhi rentabilitas dan efisiensi BPR selama setahun terakhir. Hal ini tercermin dari Return on Assets (ROA) menurun dari 2,17 persen menjadi 1,75 persen dan rasio BOPO meningkat dari 79,94 persen menjadi 82,94 persen. Sementara pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit mengakibatkan rasio LDR posisi September 2019 masih cukup tinggi yaitu mencapai 71,19 persen. *kup

BAGIKAN