November 2019, Neraca Perdagangan Bali Surplus 27,5 Juta Dolar AS  

Meskipun hanya bagian kecil dari perdagangan (luar negeri) nasional, neraca perdagangan Provinsi Bali menyumbang surplus.

Denpasar (bisnisbali.com) –Meskipun hanya bagian kecil dari perdagangan (luar negeri) nasional, neraca perdagangan Provinsi Bali menyumbang surplus. Itu tercermin dari nilai perdagangan Pulau Dewata surplus hingga 27.510.603 dolar AS pada transaksi ekspor-impor November 2019.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, di Denpasar, Jumat (17/1) kemarin mengungkapkan, surplus pada perdagangan ekspor-impor Provinsi Bali ini juga terjadi pada Oktober 2019. Nilai surplus mencapai 34.505.112 dolar AS.

Terangnya, November 2019 nilai ekspor barang Provinsi Bali ke luar negeri yang dikirim lewat beberapa pelabuhan di Indonesia tercatat mencapai 51.016.660 dolar AS atau turun -13,63 persen dibandingkan Oktober 2019 yang tercatat 59.068.047 dolar AS.

“Jika dibandingkan November 2018, nilai ekspor November 2019 juga tercatat turun -16,80 persen,” tuturnya.

Dari sepuluh negara utama pangsa ekspor Bali ke luar negeri di November 2019, enam negara tujuan menurun dibandingkan Oktober 2019 dengan penurunan terdalam tercatat pada ekspor ke Australia – 44,75 persen yang didominasi oleh turunnya ekspor produk perhiasan atau permata. Jika dibandingkan November 2018, delapan negara tujuan ekspor Provinsi Bali juga menurun dengan penurunan terdalam tercatat pada tujuan Tiongkok – 41,80 persen. Ini didominasi oleh turunnya ekspor produk ikan dan udang serta buah-buahan.

Di sisi impor, jelas Adi, periode yang sama impor Bali tercatat 23.506.057 dolar AS atau turun -4,30 persen jika dibandingkan Oktober 2019 yang tercatat 24.562.935 dolar AS. Jika dibandingkan November 2018, nilai impor juga menurun -70,32 persen. Katanya, dari sepuluh negara utama impor pada November 2019, delapan negara asal impor tercatat menurun jika dibandingkan Oktober 2019 dengan penurunan terdalam tercatat pada impor asal Belanda yang dominan disebabkan oleh turunnya perdagangan produk mesin dan peralatan listrik.

“Namun terdapat peningkatan hingga ribuan persen pada impor dari Norwegia yang dominan berupa mesin dan peralatan listrik pada periode yang sama,” ujarnya.

Sambungnya, dilihat dari produk yang diperdagangkan adalah ikan dan udang menjadi komoditas ekspor utama Bali ke luar negeri dengan nilai 14.779.836 dolar AS November 2019. Paparnya, dari sepuluh komoditas ekspor utama pada November 2019, terdapat delapan komoditas menurun jika dibandingkan dengan Oktober 2019 dengan penurunan terdalam tercatat pada ekspor produk kertas atau karton hingga -33,82 persen.

“Jika dibandingkan November 2018, delapan komoditas utama juga menurun, dengan penurunan terdalam tercatat pada ekspor produk kertas atau karton,” ujarnya.

Terkait impor Bali memperdagangkan produk mesin dan peralatan listrik yang sekaligus menjadi komoditas impor terbesar dari luar negeri pada November 2019 dengan nilai 5.165.690 dolar AS. Sambungnya, dari 10 komoditas utama impor, empat di antaranya menurun dibandingkan Oktober 2019. Penurunan terdalam tercatat pada komoditas minyak atsiri, kosmetik dan wangi-wangian.

“Di sisi lain terdapat peningkatan impor hingga ratusan persen pada komoditas plastik dan barang dari plastik yang dominan berasal dari Tiongkok,” tandasnya.

Tambahnya, secara komulatif ekspor barang Bali ke luar negeri atau pada periode Januari-November 2019 tercatat 545.817.493 dolar AS, atau naik 1,10 persen jika dibandingkan periode yang sama 2018 yang tercatat hanya 539.887.207. Amerika Serikat menjadi pangsa ekspor terbesar dengan share 29,59 persen dari total ekspor kumulatif. Di sisi lain, peningkatan ekspor secara kumulatif tertinggi tercatat pada ekspor tujuan Taiwan (28,21 persen).

Paparnya, terkait impor barang kumulatif Bali periode Januari-November 2019 tercatat 243.954.624 dolar AS, atau turun -1,67 persen jika dibandingkan dengan periode Januari-November 2018 yang tercatat 248.101.189 dolar AS. Hongkong menjadi negara asal impor terbesar Provinsi Bali yang tercatat memiliki share 25,85 persen dari total impor.

“Peningkatan impor tertinggi bahkan hingga ratusan persen tercatat pada dua negara asal impor yakni Belanda (304,05 persen) dan Singapura (174,39 persen),” tegasnya. *man

BAGIKAN