Nilai Tukar Petani Bali Naik 0,72 Persen

Perkembangan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali tercatat 92,12 pada April 2021 atau naik sebesar  0,72  persen dibandingkan kondisi bulan sebelumnya  yang tercatat 91,46.

NAIK - Perkembangan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali tercatat 92,12 pada April 2021 atau naik sebesar  0,72  persen dibandingkan kondisi bulan sebelumnya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Perkembangan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali tercatat 92,12 pada April 2021 atau naik sebesar  0,72  persen dibandingkan kondisi bulan sebelumnya  yang tercatat 91,46. Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya indeks yang diterima petani (It) sebesar 0,86 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,13 persen.

“Indeks yang diterima petani tercatat naik dari 98,63 menjadi 99,47 pada April  2021. Sedangkan indeks dibayar petani tercatat naik dari 107,84 menjadi 107,99,” kata Kepala BPS Provinsi Bali, Hanif Yahya di Denpasar.

Ia menerangkan indeks NTP Provinsi Bali pada April  2021 masih berada di bawah angka 100. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam tingkatan tertentu nilai tukar produk yang dihasilkan petani belum mampu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga petani, yang terdiri atas dua hal pokok, yaitu konsumsi rumah tangga dan biaya produksi pertaniannya.

Dari 5 subsektor yang menjadi komponen penyusunan indeks NTP, hanya subsektor peternakan dan subsektor perikanan yang mencapai angka 100.1.

Pada April  2021, indeks nilai tukar petani subsektor  tanaman pangan tercatat turun cukup dalam mencapai  2,75 persen, dari 92,40 pada bulan sebelumnya menjadi  89,86. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks  yang diterima petani (It) sedalam 2,58 persen sedangkan  indeks yang dibayar petani (Ib) tercatat naik sebesar 0,18  persen.

Indeks diterima petani katanya tercatat turun dari 100,07  menjadi 97,49 pada April 2021.  Sementara itu  indeks dibayar petani pada bulan sama tercatat naik dari 108,30 menjadi 108,49. Penurunan pada indeks diterima petani dipengaruhi oleh turunnya indeks harga pada kelompok  padi (gabah) sedalam  2,78 persen, meskipun tercatat  kenaikan sebesar 0,34 persen pada kelompok palawija.

Sementara itu, kenaikan pada indeks dibayar petani dipengaruhi oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,08 persen dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,50 persen.

Ia pun menjelaskan indeks NTP Subsektor Hortikultura (NTP-H) pada bulan April 2021 tercatat 94,86 atau naik sebesar 2,67 persen dari bulan sebelumnya yang tercatat  92,39.  Kenaikan ini disebabkan oleh adanya kenaikan indeks diterima petani sebesar 2,89 persen, sedangkan kenaikan indeks dibayar petani tercatat lebih rendah, yaitu 0,21 persen.

“Adanya kenaikan pada indeks diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga pada semua kelompok, kecuali kelompok tanaman obat-obatan (khususnya kunyit dan jahe) yang turun sedalam 1,63 persen,” paparnya.

Kelompok sayur-sayuran (khususnya tomat, cabai merah dan bawang merah) tercatat mengalami kenaikan tertinggi mencapai 2,95 persen, disusul kelompok buah-buahan (khususnya jeruk, pisang dan mangga) yang naik sebesar  2,83 persen. Sementara itu, kenaikan pada indeks dibayarkan petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga dan indeks BPPBM masing-masing sebesar 0,23 persen dan 0,09 persen.

Ia pun menjabarkan subsektor tanaman perkebunan rakyat masih tercatat sebagai subsektor dengan indeks NTP terendah. Pada April 2021, indeks NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat tercatat sebesar 81,32 atau naik setinggi 2,28 persen dibandingkan bulan Maret 2021 yang tercatat sebesar 79,51. Kenaikan tersebut disebabkan oleh indeks diterima petani yang naik setinggi 2,51 persen (dari 85,22 menjadi 87,36), sementara indeks yang dibayarkan petani tercatat naik lebih rendah, yaitu sebesar 0,22 persen (dari 107,19 menjadi 107,42).

Kenaikan indeks yang diterima petani disebabkan  oleh  naiknya indeks harga pada cengkeh dan kopi. Di sisi lain, kenaikan pada indeks dibayarkan petani dipengaruhi oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga dan indeks BPPBM masing-masing sebesar 0,27 persen dan 0,06 persen.*dik

BAGIKAN