Nilai Ekspor Peternakan Bali terus Meningkat

Sekda provinsi Bali, Dewa Indra, didampingi Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Mardiana,  Kamis (19/12) melepas ekspor 'day old chicken' ( DOC ) ke Timor Leste Rp187 juta lebih.

EKSPOR - Sekda provinsi Bali, Dewa Indra, didampingi Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Mardiana,  Kamis (19/12) melepas ekspor 'day old chicken' ( DOC ) ke Timor Leste.

Denpasar (bisnisbali.com) –Sekda provinsi Bali, Dewa Indra, didampingi Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Mardiana,  Kamis (19/12) melepas ekspor ‘day old chicken’ ( DOC ) ke Timor Leste Rp187 juta lebih.

Selain itu  juga di ekspor produk non pangan seperti dream chatcher, kulit sapi dan tengkorak sapi. Dengan demikian terjadi peningkatan nilai ekspor peternakan Bali sekitar 10% dibandingkan 2018.
Sekda Dewa Indra mengatakan, selama ini Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor. “Presiden berkali-kali mengatakan tingkatkan ekspor tingkatkan apa pun yang berkaitan dengan ekspor. Kita di Provinsi Bali, export ini tidak hanya untuk meningkatkan devisa tapi juga memang untuk mendorong perekonomian masyarakat,” ucap Dewa Indra usai melepas ekspor DOC di kantor Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Dikatakan, peternak selama ini bisa memproduksi ayam dan sapi yang cukup segi produksi daging cukup,  produksi telur juga cukup. “Tapi yang selalu jadi persoalan pemasaran dan pasar lokal tidak menyerap itu.  Dengan ekspor maka akses pasar terbuka semakin tinggi, maka bisa mendorong produktivitas pertanian,” tukasnya.

Sementara Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Mardiana, mengatakan ekspor peternakan ada produk pangan dan nonpangan. Selain mengekspor DOC  ke Timor Leste Rp187 juta lebih, juga diekspor karkas ayam utuh boneless dan olahan ayam senilai Rp4 miliar 796 juta lebih. Selain ke Timor Leste ada ekspor produk peternakan dari Bali berupa hatching, egg GP broiler, GP layer dan hatching Egg PS ke Myanmar sekitar Rp3 triliun.
Produk non pangan di kirim ke Amerika,  Amerika Latin, Kanada dan negara lainnya sekitar Rp46 miliar 406 juta lebih, berupa bulu ayam, kulit sapi atau kambing, tengkorak dan tanduk kerbau /sapi.

“Tiap tahun nilai ekspor produk peternakan akan meningkat sejalan dengan keinginan bapak presiden dan juga Bapak Gubernur bagaimana untuk meningkatkan nilai ekspor. Dengan membuka peluang – peluang pasar baru sehingga tidak mengganggu pasar di daerah,” tutur Mardiana.
Dengan demikian harga di pasar domestik menjadi stabil tidak anjlok. “Daya optimis ekspor ke Timor Leste akan konsisten karena terkait dengan jarak yang dekat dan harga yang lebih terjangkau dibandingkan mereka mengimpor dari negara lain maka jaraknya lebih jauh, membutuhkan waktu lama dan ketika sampai di Timor Leste kondisi dagingnya sudah turun kualitasnya,” tandasnya.

Dikatakan, terjadi peningkatan ekspor produk peternakan sekitar 10% dibandingkan tahun 2018. “Hal ini juga terkait kepercayaan dari negara-negara importir terhadap produk yang kita kirimkan.  Ada dua perusahaan besar sebagai eksportir yang bekerja sama dengan para peternak di Bali yaitu PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan PT Charoen Pokphand Jaya Farm,” ungkapnya memungkasi. *pur

BAGIKAN