Nelayan di Tabanan Bertambah hingga 12 Persen

Jumlah nelayan di Kabupaten Tabanan meningkat selama pandemi Covid-19.

MUDA - Generasi muda banyak beralih menjadi nelayan sejak pandemi Covid-19.

Tabanan (bisnisbali.com) –Jumlah nelayan di Kabupaten Tabanan meningkat selama pandemi Covid-19. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tabanan I Ketut Arsana Yasa mencatat tambahan mencapai 10-12 persen sehingga kini menjadi 1.232 orang.

“Jumlah penambahan nelayan tersebut sekaligus menambah jumlah kelompok yang ada di Kabupaten Tabanan saat ini,” tutur Arsana Yasa, Senin (1/2) kemarin. Penambahan nelayan baru ini disumbang oleh kalangan pekerja hotel atau pariwisata yang di-PHK atau dirumahkan oleh kantor atau  tempatnya bekerja karena terdampak pandemi Covid-19. Mereka kemudian beralih melakoni mata pencaharian sebagai nelayan.

Menurutnya, penambahan jumlah nelayan juga terjadi pada waktu kasus bom Bali I dan bom Bali II lalu. Saat ini secara keseluruhan sebagian besar nelayan di Kabupaten Tabanan merupakan kalangan generasi muda atau penerus generasi sebelumnya yang sudah sepuh (berusia tua).

Pria yang akrab disapa Sadam dan anggota DPRD Tabanan ini menyebut jika dilihat secara persentase lonjakan, jumlah nelayan baru di Kabupaten Tabanan cukup besar. Sejak akhir 2020 lalu sampai Januari 2021 jumlah lonjakannya mencapai 10-12 persen atau 100-120 orang.

Diakuinya, potensi usaha perikanan tangkap yang cukup besar di Kabupaten Tabanan memang memberi harapan bagi nelayan dalam menopang ekonomi keluarga. Salah satunya saat ini hasil tangkapan lobster dan ikan tengah mengalami lonjakan harga. Akan tetapi lonjakan harga ini dibarengi kondisi cuaca buruk sehingga harus diwaspadai.

Sejak Minggu (31/1) lalu terjadi cuaca buruk ditandai gelombang tinggi di pesisir Tabanan yang kemungkinan membayangi hingga Rabu (3/2) besok. Gelombang tinggi terjadi karena di tengah laut di Selatan Pulau Jawa sedang berembus angin kencang dengan embusan mencapai 78 kilometer per jam. Kondisi ini memicu gelombang setinggi 4-6 meter yang berimbas ke pantai Selatan Bali termasuk Tabanan.

“Di Bali, gelombang setinggi 4-5 meter terjadi sejak Minggu lalu. Bahkan, pada Sabtu malam terjadi gelombang pasang karena berbarengan dengan angin kencang, sehingga ketinggian gelombang menyentuh bibir jalan di Pantai Pasut,” papar Arsana Yasa.

Guna menghindari dampak gelombang tinggi, ia menghimbau para nelayan di Tabanan untuk menyelamatkan alat tangkap (perahu) dan sementara waktu menunda melaut hingga Rabu besok. Situasi seperti ini tidak hanya dialami oleh nelayan di Tabanan, namun seluruh nelayan pantai Selatan. *man

BAGIKAN