Nataru Kerek Harga Produk Pertanian di Tabanan  

Sejumlah komoditi pertanian yang dihasilkan oleh petani di Kabupaten Tabanan mengalami lonjakan harga  saat ini.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah komoditi pertanian yang dihasilkan oleh petani di Kabupaten Tabanan mengalami lonjakan harga  saat ini. Kondisi tersebut salah satunya dipicu oleh momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang mengerek permintaan pasar, khususnya hotel dan restoran seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata.

Salah seorang petani sayur di Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Wayan Ada, Jumat (18/12) kemarin, mengungkapkan  harga sejumlah produk pertanian khususnya hortikultura mengalami lonjakan saat ini. Naiknya harga di antaranya terjadi pada jenis selada bulat dari semula Rp 5.000 meningkat menjadi Rp 25.000. Hal yang sama juga terjadi pada harga brokoli yang naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 30.000 dan cabai besar naik dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 30.000 per kilogram.

Di sisi lain, ada juga sejumlah komoditi yang mengalami penurunan harga. Di antaranya bawang pre dari Rp 4.000 turun menjadi Rp 2.000 per kilogram dan tomat yang semula dijual Rp 10.000 sekarang turun menjadi Rp 6.000 per kilogram.

Dijelaskannya, lonjakan harga ini terjadi di tingkat petani dan sudah berlangsung sejak seminggu terakhir. Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya permintaan pasar seiring melonjaknya kunjungan wisatawan ke Bali menjelang momen Nataru. Selain itu, lonjakan dipicu oleh menurunnya produksi di tingkat petani yang sebelumnya dikondisikan dalam jumlah terbatas sebagai dampak pandemi Covid-19 yang sempat membuat harga hortikultura mengalami penurunan dan karena faktor cuaca. “Seminggu terakhir ini seiring meningkatnya curah hujan di sekitaran Bedugul, produksi petani turun. Akibatnya, harga menjadi naik,” kilahnya.

Hal senada juga diungkapkan petani sayur di Desa Baturiti, Wayan Mustika. Saat ini sejumlah harga sayur-sayuran mengalami lonjakan. Meski begitu, kondisi tersebut tidak sertamerta menguntungkan petani sayur. Sebab, sebelumnya atau pada awal pandemi lalu petani sayur banyak merugi seiring banyaknya produksi yang tidak dibarengi dengan permintaan, sehingga harga menjadi anjlok.

Bercermin dari kondisi tersebut, ia memprediksi melonjaknya harga sejumlah komoditi pertanian tidak akan direspons oleh petani dengan kembali meningkatkan produksi seperti sebelum pandemi Covid-19. “Saya tidak berani berspekulasi akan meningkatkan kembali produksi sayur saat momen Nataru. Saya lebih baik menunggu dibukanya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali, karena itu sudah pasti akan berdampak pada serapan produk pertanian,” jelasnya. *man

BAGIKAN