Naik ke Level Rp4.000 per Kg, Petani Manggis hanya Pasrah

Sejumlah petani manggis di Kabupaten Tabanan hanya bisa pasrah menyikapi harga jual produksi pada musim panen di tengah pandemi corona (covid-19) sekarang ini.

Tabanan (bisnisbali.com) –Sejumlah petani manggis di Kabupaten Tabanan hanya bisa pasrah menyikapi harga jual produksi pada musim panen di tengah pandemi corona (covid-19) sekarang ini. Betapa tidak, meski harga jual sudah naik ke level Rp 4.000 per kg, dari Rp 1.000 per kg pasca-Nyepi lalu, kondisi tersebut tetap jauh di bawah dari harga jual normal yang pernah berada di kisaran Rp 20.000-an per kg.

Petani manggis dari Banjar Kebon Jero Kauh, Desa Munduk Temu, Pupuan, Ketut Suardika, Rabu (22/4) mengungkapkan, harga manggis di tingkat petani memang sudah naik dari sebelumnya. Diakuinya, meski sudah naik ke kisaran Rp 4.000 per kg, kondisi tersebut tetap tidak sebanding dengan biaya produksi dan ongkos petik yang berkisar Rp 1.500-Rp 2.000. Artinya, tahun ini panen raya manggis tidak menguntungkan bagi petani, meski menjadi salah satu komoditi ekspor.

“Tahun ini cuaca memang sangat mendukung untuk produksi, sehingga produksi manggis di tingkat petani menjadi lebih berlimpah dibandingkan tahun lalu,” tuturnya.

Jelas Suardika, produksi manggis yang melimpah ini kemudian memberi andil bagi anjloknya harga jual di pasaran saat ini. Selain itu, anjloknya harga juga dipicu oleh susahnya petani mendapatkan buruh panen (tukang petik) seiring dengan di sejumlah daerah yang menerapkan karantina wilayah sebagai antisipasi corona, dan terhambatnya distribusi penjualan manggis baik untuk ekspor maupun di tingkat lokal di tengah pandemi corona saat ini.

Paparnya, minimnya keberadaan buruh panen ini membuat  buah manggis milik petani menjadi terlambat panen. Akibatnya, banyak buah manggis berwarna hitam dan itu tidak lolos dalam standar mutu ekspor. Di sisi lain, untuk serapan manggis di tingkat lokal juga tidak banyak, termasuk juga jumlah pengepul yang membeli manggis dari petani, seiring dengan dibatasinya jam operasional pasar tradisional di sejumlah kabupaten/kota saat ini.

“Akibatnya, stok manggis di tingkat petani menjadi melimpah karena tidak bisa tersalurkan dengan maksimal. Akhirnya harga menjadi murah,” kilahnya.

Menyikapi kondisi harga yang anjlok, pihaknya tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah. Sebab, di tengah pandemi corona ini, diakuinya, selain serapan pasar yang menurun, pihaknya juga membatasi diri untuk memasarkan produk. Katanya, penjualan ia fokuskan pada pengepul di desa sebelah, itu pun dengan transaksi tanpa bertemu.

“Penawaran dan harga saya lakukan dengan pembeli melalui handphone. Setelah ada kesepakatan trasnaksi, barang saya letakkan di depan gudang beserta nota tagihan dan kemudian pembeli akan datang mengambil untuk kemudian dijual kembali ke pasaran,” tandasnya. *man

BAGIKAN