Musim Panen Molor, Harga Manggis Sentuh Level Tertinggi

Harga manggis di tingkat petani tengah merangsek naik hingga menyentuh Rp 70.000 per kg.

MANGGIS - Harga manggis di tingkat petani saat ini sedang tinggi.

Tabanan (bisnisbali.com) – Harga manggis di tingkat petani tengah merangsek naik hingga menyentuh Rp 70.000 per kg. Harga ini merupakan posisi tertinggi sejak sepuluh tahun terakhir. Ironisnya, lonjakan harga buah yang identik disebut sebagai “ratu buah” ini tak banyak dinikmati oleh petani di Bali.

Direktur PT Bagus Segar Utama sekaligus eksportir manggis, I Wayan Artika, di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Senin (4/1), mengungkapkan, saat ini harga manggis berada pada posisi yang sangat mahal mencapai Rp 70.000 per kg di tingkat petani. Kondisi serupa juga terjadi di tingkat pasar ekspor, yakni di pasar Tiongkok yang merupakan buyer terbesar untuk manggis dunia ditransaksikan hingga di atas Rp 120.000 per kg hingga Rp 130.000 per kg.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, saat ini harga manggis merupakan yang tertinggi sejak sepuluh tahun terakhir. Biasanya kalau kondisi normal harga manggis ini hanya berada di kisaran Rp 25.000 per kg sampai Rp 35.000 per kg,” tuturnya.

Menurutnya, meski harga manggis ini mahal di tingkat petani, namun saat ini tidak banyak petani manggis Tabanan termasuk Bali yang menikmati harga tersebut. Dia memprediksi, saat ini hampir tidak ada petani manggis di Tabanan yang panen. Kalaupun ada, volumenya sangat kecil. Manggis yang beredar di pasaran ini rata-rata merupakan hasil panen petani dari Lombok dan itupun jumlahnya tidak banyak saat ini.

Kata Artika, penyebab lonjakan harga manggis di tingkat petani ini karena terjadinya kemunduran musim panen. Musim panen raya mestinya mulai terjadi pada Januari ini, namun karena dampak anomali cuaca menjadi mundur dan kemungkinan baru terjadi pada Agustus mendatang. “Sebelumnya, kondisi kemunduran musim panen manggis ini pernah terjadi pada 2015-2016 lalu. Saat ini hal tersebut kembali lagi terjadi dan mungkin ini merupakan siklus lima tahunan,” tandasnya.

Di sisi lain, harga manggis yang mahal ini membuat sejumlah buyer di pasar ekspor melakukan penundaan pembelian produk. Sebab, risikonya  terlalu tinggi, karena permintaan manggis di negara pengimpor juga mengalami penurunan seiring dengan mahalnya harga manggis saat ini.

“Di tengah harga manggis yang mahal ini, kami memang terus melakukan pengiriman ekspor untuk menjaga kontinuitas produk. Tapi volumenya jauh menurun dengan rata-rata 200 keranjang,” ujarnya.

Harapannya, di tengah kemunduran musim panen, pemerintah memberi perhatian lebih kepada para petani manggis lokal untuk bisa bertahan. Khususnya, bantuan permodalan yang bisa digunakan untuk tetap melakukan perawatan tanaman, sehingga produksi manggis pada musim panen raya nanti bisa menjadi optimal.

Dia menambahkan, panen pada Agustus mendatang kemungkinan akan membuat stok manggis di tingkat lokal membanjiri pasaran, seiring dengan kondisi panen raya. Prediksinya, bercermin dari musim panen raya tahun sebelumnya, produksinya akan mampu mencapai 30 sampai 40 ton per hari kualitas super (standar ekspor), sedangkan untuk kualitas di bawah itu bisa mencapai 50 hingga 60 ton per hari. *man

BAGIKAN