Mulai Garap  ’’Second City’’

Lasta Arimbawa

TIDAK henti-hentinya pelaku pariwisata mengerahkan upaya untuk memulihkan kembali industri pariwisata. Melihat dari peluang yang ada, tingkat traveling wisatawan domestik (wisdom) yang tinggi menjadi salah satu hal yang diperjuangkan pelaku pariwisata, dengan cara menyusuri setiap kota kecil di Indonesia, khususnya di Bali.

General Manager Sthala Hotel Ubud Bali by Marriot International, Lasta Arimbawa menunjukkan keterkejutannya dalam melihat data yang menunjukan angka traveling domestik cukup tinggi. Itu menandakan adanya potensi yang dapat digali dalam situasi pandemi-Covid-19. Untuk itu, cara yang dilakukan adalah dengan menyisir kota-kota yang belum pernah terjamah, dengan tujuan mencari dan manggaet wisatawan untuk datang ke Bali.

“Jika sebelumnya kami di sini fokus dengan kota-kota besar, sekarang kita mulai menyusuri second or third city seperti contohnya Banyuwangi, Jember, Malang dan seluruh kota yang ada di Bali. Dari sisi kreativitas lainnya, Sthala Ubud bekerja sama dengan universitas pariwisata untuk melakukan pembekalan di sini. Respons yang didapat dari kegiatan tersebut juga sangat luar biasa,” ujar Arimbawa.

Upaya meningkatkan optimisme mahasiswa yang mempelajari bidang pariwisata harus tetap dijaga. Jangan sampai, tumbuh persepsi bahwa pariwisata bukan lagi harapan yang mampu diperjuangkan. Bagaimana pun, mahasiswa tersebut perlu persiapan dan praktik nyata sehingga nantinya dianggap siap bekerja di sektor pariwisata.

Arimbawa meyakini untuk tidak menunggu keadaan membaik, melainkan tetap melakukan sesuatu sehingga terlihat baik. Salah satu contoh kegiatan lain yang dilakukan Sthala di tengah pandemi adalalah melakukan acara tahunnya berupa run to give yang akan dilaksanakan pada 1 sampai 31 Oktober. Bedanya, kegiatan tersebut akan dilakukan secara virtual, mengingat harus ada protokol kesehatan yang dipatuhi.

“Mengenai protokol kesehatan, kami sangat konsisten dalam menerapkannya di hotel. Mulai dari cek suhu tubuh bagi seluruh orang yang datang termasuk karyawan. Adanya fasilitas cuci tangan dan penyediaan hand sanitizer di setiap sudut ruangan. Di setiap 2 jam akan ada gong yang berbunyi sebagai tanda segala bentuk protokol kesehatan harus dilakukan kembali. Itu adalah bentuk konsistensi kami di Sthala Hotel dalam menerapkan protokol kesehatan dan menumbuhkan kenyamanan bagi seluruh wisatwan yang datang,” ujarnya.

Membangun kepercayaan wisatawan tidak bisa sekadar dengan kata-kata. Harus ada hal riil yang dilakukan, sehingga ada perkembangan positif. Selain itu transparansi berita di media juga menjadi salah satu faktor pendukung dalam membangun kepercayaan ini. Informasi diharapkan berimbang antara kejadian positif dan negatif. *git

BAGIKAN