Mulai Berdampak, Transaksi Daging Babi Menurun Tajam  

Kematian ternak babi yang terjadi secara mendadak dan masal akhir-akhir ini dikaitkan dengan keberadaan virus african swine and fever (ASF) tidak hanya berdampak pada kerugian para peternak.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kematian ternak babi yang terjadi secara mendadak dan masal akhir-akhir ini dikaitkan dengan keberadaan virus african swine and fever (ASF) tidak hanya berdampak pada kerugian para peternak. Kondisi ini juga memberi pengaruh terhadap menurun tajamnya penjualan daging di pasaran.

Salah seorang pedagang daging di Pasar Badung, Ni Made Sekarini, saat ditemui Senin (27/1) kemarin mengatakan, sejak adanya isu virus ASF pembeli kian sepi. Meski virus ini tidak menular kepada tubuh manusia, menurut Sekarini, tetap ada ketakutan dari pembeli yang membuat menurunnya penjualan. “Sepinya penjualan sebenarnya sudah terjadi sejak 3 bulan lalu. Ini diperparah lagi dengan adanya kejadian banyak babi mati mendakak, membuat penjualan makin sepi,” ungkapnya.

Dari segi kebersihan dan kesehatan hewan, pedagang di Pasar Badung khususnya yang berjualan di dalam gedung dikatakannya selalu memperhatikan hal tersebut. Sekarini mengatakan, pihaknya mengambil daging dari rumah ptotong hewan (RPH) yang kesehatannya dicek sebelum dipotong serta kebersihannya terjamin.

Sebelumnya, Sekarini mengaku setiap harinya bisa menjual hingga 7 ekor babi. Sementara sejak pembeli sepi, pihaknya hanya menyediakan 2-3 ekor per harinya. Itu pun terkadang tidak habis. Disinggung soal harga, dia mengatakan hingga saat ini belum ada perubahan saat ini dijualnya masing Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram.

Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang lainnya, Kadek Sukari. Dia mengatakan saat ini harga daging babi yang dijualnya masih tetap sama yaitu Rp65.000 per kilogram. Dia juga mengeluhkan pembeli sepi saat ini yang diakibatkan adanya fenomena babi mati mendadak.

Sementara itu, Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) saat dikonfirmasi mengatakan, harga jual ternak babi saat ini mengalami penurunan. Sebelum terjadinya wabah yang membuat ternak mati mendadak harga babi hidup mencapai Rp30.000 per kikogram. Saat ini berkisar dari Rp24.000 hingga Rp28.000 per kilogram. “Peternak resah, masih terjadi wabah di beberapa wilayah,” ungkapnya. *wid

BAGIKAN