Mudik Dilarang, Pengusaha AKAP Kembali Kecewa

Untuk kali kedua pelaku usaha angkutan darat terutama angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) kembali kecewa dikarenakan tidak bisa beroperasi pada Lebaran tahun ini.

TERMINAL – Seorang penumpang tengah menunggu kedatangan bus di Terminal Mengwi.

Denpasar (bisnisbali.com) – Untuk kali kedua pelaku usaha angkutan darat terutama angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) kembali kecewa dikarenakan tidak bisa beroperasi pada Lebaran tahun ini. Larangan mudik jadi sumber kekecewaan, mengingat para pelaku usaha telah mempersiapkan berbagai hal menyambut musim mudik.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Bali, I Ketut Eddy Dharma Putra, Rabu (21/4) mengatakan, kekecewaan tentu terjadi pada pelaku usaha transportasi terutama AKAP. Sebelumnya, Eddy mengatakan sempat ada wacana jika mudik diperbolehkan, sehingga para pelaku usaha sudah mempersiapkan diri. Namun dengan adanya larangan kembali, selain kekecewaan, kerugian juga dialami para pelaku usaha.

“Pada waktu diberikan harapan beberapa pelaku usaha sudah mempersiapkan diri untuk memperbaiki semua kendaraan dan kelayakan kendaraan untuk beroperasional. Cost sudah dikeluarkan oleh pelaku usaha dengan harapan Lebaran ini bisa beroperasi,” ujarnya.

Dengan adanya larangan mudik, dia menyatakan, tentunya ada kerugian dan kekecewaan yang dialami oleh pelaku usaha transportasi. “Kami tentunya menyadari bahwa pandemi perlu ada kerja sama bersama untuk menekan angka Covid-19. Kami juga mendukung aturan dari pemerintah,” terangnya.

Eddy pun mengaku sudah memberikan arahan kepada anggotanya untuk tidak ada operasional AKAP pada periode 6 hingga 17 Mei mendatang. Disinggung soal jumlah angkutan yang biasanya beroperasi pada momen jelang Lebaran, Eddy menyebut, sebelum pandemi ada 90 hingga 100 bus bahkan lebih yang beroperasi per hari untuk layanan mudik. Saat ini, hanya 26 sampai 30 bus yang beroperasi dan itu pun tidak full terisi.

Selain kekecewaan akan tidak bisanya beroperasi pada Lebaran tahun ini, Eddy juga menyatakan, pelaku usaha kebingungan dengan adanya kewajiban bagi perusahaan untuk memberikan THR kepada karyawan. Tentunya kondisi ini sangat menekan pelaku usaha angkutan yang di satu sisi pemasukan jelang Lebaran tidak ada, di satu sisi pengeluaran harus tetap berjalan. *wid

BAGIKAN