Minim Permintaan dan Harga Anjlok, Petani Sayur di Tabanan Kurangi Produksi  

Di era new normal pandemi Covid-19 sejumlah petani sayur di Desa Candi Kuning, Kabupaten Tabanan memilih mengurangi volume produksi yang dihasilkan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di era new normal pandemi Covid-19 sejumlah petani sayur di Desa Candi Kuning, Kabupaten Tabanan memilih mengurangi volume produksi yang dihasilkan. Kondisi tersebut seiring dengan menimnya permintaan pasar dan anjloknya harga jual sayur saat ini.

Salah seorang petani sayur di Desa Candi Kuning, Wayan Ada, di Tabanan, Rabu (2/9) mengungkapkan, saat ini sebagian besar permintaan pasar dan harga akan sayur-sayuran mengalami penurunan tajam. Contohnya, sayur seledri yang sebelumnya di perdagangkan di kisaran Rp 5.000 per kg turun menjadi Rp 1.500 per kg saat ini, bawang pre dari Rp 10.000 per kg turun menjadi Rp 5.000 per kg, timun dari Rp 7.000 per kg turun ke harga Rp 1.500 per kg.

“Penurunan harga sayur ini sudah terjadi lebih dari sebulan dan selama itu pula kami ini merugi. Sebab, di tengah turunnya harga hasil produksi, tidak dibarengi dengan turunnya pula biaya produksi,” keluhnya.

Jelas Wayan Ada, saat ini harga produksi khususnya obat-obatan hingga pupuk yang dibutuhkan untuk budi daya cukup mahal. Prediksinya, dengan luasan setengah hektar yang diusahakan, minimal membutuhkan biaya hingga di atas jutaan rupiah.

Bercermin dari itu akuinya, beberapa bulan terakhir menyikapi biaya produksi yang mahal dengan permintaan dan harga yang turun, pihaknya terpaksa mengurangi volume produksi. Akuinya, dari total luasan lahan setengah hektar, kini dimanfaatkan atau diolah untuk budi daya hanya 30 are.

Sambungnya, mengurangi produksi ini merupakan upaya lain yang dilakukan setelah sebelumnya juga alami kerugian akibat tidak terserapnya produksi sayur, karena terfokus untuk memenuhi serapan hotel dan restoran. Paparnya, saat itu sayur semisal paprika, sayur lektus (lettuce head) dibabat habis dan digantikan dengan jenis sayuran untuk kebutuhan masyarakat lokal.

“Namun sayang, hal itu juga tidak banyak membantu, karena permintaan juga sepi seiring turunnya daya beli konsumen saat ini,” kilahnya.

Hal senada juga diungkapkan petani sayur di Baturiti, Tabanan, Wayan Mustika. Kata dia, harga sayur di tingkat petani tidak menguntungkan saat ini. Akuinya, kondisi itu membuat biaya yang sudah ditanggung petani selama budi daya tiga bulan yang mencapai Rp 30 jutaan, tidak menutupi dengan pendapatan yang diterima pada saat panen.

“Meski begitu kami tidak bisa berbuat banyak, di tengah belum dibukanya Bali untuk menerima kunjungan wisatawan mancanegara yang sebelumnya jadi penopang untuk serapan hasil pertanian,” tandasnya. *man

BAGIKAN