Menurun, Serapan Beras Hitam Tabanan

Serapan pasar akan beras kategori khusus atau beras hitam produksi petani di Kabupaten Tabanan menyusut atau mengalami penurunan belakangan ini.

PENGEMASAN - Proses pengemasan beras hitam produksi petani di Desa Bengkel.

Tabanan (bisnisbali.com) – Serapan pasar akan beras kategori khusus atau beras hitam produksi petani di Kabupaten Tabanan menyusut atau mengalami penurunan belakangan ini. Bercermin dari kondisi tersebut, sejumlah petani berencana akan mengurangi luasan produksi beras hitam pada masa tanam tahun depan.

Petani sekaligus pengusaha beras hitam di Desa Bengkel, Kediri, Kabupaten Tabanan, I Made Merta Suteja, Selasa (22/12) kemarin, mengungkapkan, hingga kini pengembangan beras hitam di Desa Bengkel terus diupayakan dan saat ini baru memasuki 20 hari masa tanam. Sayangnya, kondisi permintaan pasar akan beras hitam mengalami penurunan dari sebelumnya. “Permintaan pasar yang sebelumnya mengalami lonjakan pada masa awal pandemi Covid-19 seiring dengan kandungan beras hitam yang diyakini banyak kalangan baik bagi menjaga imun tubuh, belakangan permintaan pasarnya justru mengalami penurunan,” keluhnya.

Menurut Suteja, permintaan pasar yang biasanya menyerap rata-rata rutin 50 kg per minggu, kini dengan jumlah yang sama baru terjadi 2 minggu sekali atau jika dilihat secara bulanan penurunan permintaan bisa mencapai 50 persen. Sebab permintaan pasar yang bisa mencapai 200 kg per bulan, kini hanya melayani permintaan pasar 100 kg per bulan. Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh menurunnya daya beli konsumen yang sudah lebih dari 8 bulan terdampak pandemi Covid-19. Hal itu pula yang juga membuat untuk serapan beras konvensional atau beras putih juga mengalami penurunan sekarang ini. “Jangankan membeli beras hitam yang harganya lebih mahal dari beras putih, untuk membeli beras putih konsumen nampaknya akan berhitung di tengah menurunnya daya beli sekarang ini,” ujarnya.

Saat ini harga beras hitam Rp 25.000 per kg. Harga tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan harga beras putih yang belakangan cenderung dibandreol turun yakni dari harga yang sempat diperdagangkan Rp 9.400 per kg, belakangan turun menjadi Rp 9.200 per kg.

Dia melanjutkan, jika penurunan permintaan pasar akan beras hitam ini terus terjadi pada musim panen tahun depan, maka pihaknya berencana untuk musim tanam berikutnya akan mengurangi produksi dengan beralih ke komoditas beras putih. Terlebih lagi, saat ini dari hasil panen lalu masih memiliki stok gabah untuk beras hitam mencapai 5 ton lebih yang belum tersalurkan ke pasaran dari luasan produksi yang mencapai 1 hektar. “Jika musim panen nanti yang terjadi pada Maret tahun depan, produksi yang dihasilkan tidak juga mampu terserap dengan baik, maka alternatifnya akan sementara mengurangi produksi untuk beras hitam dan memperluas budi daya beras putih,” katanya.

Dia berharap kendala pemasaran produk karena menurunnya permintaan pasar untuk beras hitam ini agar bisa dibantu oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan. Salah satunya melalui program ASN Peduli yang sebelumnya pernah dilakukan dengan menyerap hasil produk pertanian.*man

BAGIKAN