Menparekraf Imbau ”Quality Tourism”, BI perlu Komunikasi Intensif Perangi Hoax

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat memberikan sambutan pada acara Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Imbas Virus Corona di Gedung Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Bali

Denpasar (bisnisbali.com) -Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat memberikan sambutan pada acara Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Imbas Virus Corona di Gedung Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Bali menyebutkan di tengah situasi pariwisata yang tergoncang karena wabah virus corona, diperlukan strategi yang komprehensif yaitu dengan meningkatkan kualitas pariwisata. Kualitas merupakan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan hanya untuk meningkatkan kuantitas.

Sementara untuk jangka pendek solusi dengan melakukan promosi ke pasar wisata baru dan menggaet pasar MICE yang identik dengan wisatawan berkualitas.
“Untuk mendatangkan wisatawan mancanegara ke Indonesia dan Bali pada khususnya tidak cukup hanya sekadar mempromosikan maupun ditambah penyiapan infrastruktur, tetapi harus didukung dengan kemampuan SDM dan keramahtamahannya,”katanya.
Ia mengatakan sebelum adanya outbreak virus corons, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyusun strategi. Salah satu strateginya adalah rencana induk pembangunan pariwisata nasional (Rippandu) atau integrated tourism masterplan yang dulunya disebut Ripparnas.

Dengan Rippandu, ia berharap agar memandang pariwisata sebagai sebuah industri yang sangat kompleks dan komprehensif.
Ia menilai Indonesia tidak boleh bergantung dari satu atau dua negara padahal ada potensi lain dari berbagai negara, karena penduduk dunia ada lebih dari 7 miliar. “Jika 10 persennya masuk ke Indonesia tentu tidak adak mampu menampung, sehingga wisatawan berkualitaslah yang harus dijaring,” sebutnya.
Sementara itu Kepala KPw BI Bali Trisno Nugroho menyampaikan saat ini perlu sinergitas langkah dalam meminimalisir dampak virus corona.

“Komunikasi intensif secara internasional dan domestik sangat diperlukan untuk memerangi pemberitaan palsu (hoax) yang dapat memperburuk situasi saat ini, ” katanya.
Hal ini dapat dilakukan melalui pertemuan dengan seluruh Konjen di Bali. Mengadakan pertemuan dengan media internasional dan updating newsletter mengenai situasi di Bali setiap minggu.
Di samping itu, kata Trisni harus mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pasar MICE dan wisatawan domestik. Salah satunya melalui event Bali Great Experience, dan pemberian insentif berupa paket promo wisata.

Berbicara mengenai upaya peningkatan kualitas wisman, tentunya sangat berkaitan dengan MICE tourism. Studi terdahulu menunjukkan keunggulan MICE tourism di antaranya, spending MICE tourism yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan leissure tourism. Kunjungan tidak bergantung pada season pariwisata. Industri MICE diperkirakan juga akan terus tumbuh dan berkembang. Selain itu jumlah wisatawan business visitor MICE/kunjungan besar dan berkontribusi terhadap Foreign Direct Investment.

“Ini juga dapat mendorong inovasi dan teknologi, membuka ide, pengetahuan dan wawasan baru,” paparnya.
Trisno pun menyambut baik di Bali telah terbentuk Bali Convention and Exhibition Bureau (BALICeb) yang ditujukan untuk menggarap potensi pasar MICE secara optimal. BALICeb berperan sebagai pusat informasi, pusat masuk wisata MICE, pemimpin industri, badan promosi dan innovator ceruk pasar baru terkait MICE. *dik

 

BAGIKAN