Meningkat, Penjualan Baju Bekas secara  ’’Online’’        

Penjualan produk yang dilakukan secara online kian menarik dan meningkat saat ini, termasuk produk bekas khususnya pakaian.

Denpasar (bisnisbali.com) – Penjualan produk yang dilakukan secara online kian menarik dan meningkat saat ini, termasuk produk bekas khususnya pakaian. Hal ini memberikan peluang bagi pelaku usaha terkait karena cara pembelian melalui media sosial menarik bagi masyarakat.

Salah seorang pemilik toko pakaian bekas di Denpasar, Okta Kristianti, mengatakan  tren penjualan produk fashion melalui media sosial sebenarnya sudah ada sejak dulu dan saat ini trennya terus meningkat. Tidak hanya mengunggah gambar, sekarang para pengusaha pakaian bekas memanfaatkan teknik siaran langsung di media sosial.

Melalui siaran langsung, pihaknya bisa berinteraksi dengan para pembeli yang menonton. Selain menayangkan siaran langsung di akun media sosial miliknya, Okta juga membagikan momen siaran langsung di marketplace atau grup di media sosial yang ada, khususnya untuk wilayah Bali.  “Dengan cara ini para pembeli kami tidak sebatas pada jaringan pertemanan media sosial yang dimiliki, namun juga masyarakat lainnya yang bergabung di jaringan marketplace atau grup yang ada,” ungkapnya, Jumat (15/1) kemarin.

Jenis produk yang dijual Okta cukup beragam, mulai dari dress, kemeja, korset, sportwear hingga pakaian dalam khusus perempuan. Ia mematok harga mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 60.000 per item. Harga tersebut diakuinya lebih mahal dibandingkan harga di pasar offline. “Harga kami memang lebih mahal, namun kualitas yang kami berikan adalah kualitas terbaik. Selain itu, sebelum baju dijual, bajunya kami cuci terlebih dahulu dan pilah, sehingga kualitasnya lebih terjamin,” paparnya.

Ia mengaku sudah memiliki pelanggan setia yang rutin membeli produknya. Pelanggan ini berasal dari berbagai kalangan di Bali. Pihaknya mendapatkan pakaian bekas impor dari pemasok dengan pembelian beberapa ball untuk sekali transaksi.

Laksmi Dewi, penjual pakaian bekas impor lainnya menyatakan hal yang sama. Menurutnya, saat ini tren berjualan dengan metode siaran langsung di akun  media sosial jauh lebih mudah. “Karena interaksi kami dengan pembeli bisa dilakukan secara langsung tanpa harus kontak fisik,” jelasnya. *wid

BAGIKAN