Membaik, Keyakinan Konsumen terhadap Kondisi Ekonomi

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Bali menyampaikan, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi di daerah ini terus membaik, meskipun masih berada pada zona pesimis (<100).

SEKAT PLASTIK - Seorang pedagang daging ayam melayani pembeli dari balik sekat plastik di Pasar Badung, Denpasar, Rabu (21/10) kemarin. Pemerintah Kota Denpasar memasang sekat plastik di setiap los pedagang untuk mencegah penyebaran Covid-19 di pasar. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Bali menyampaikan, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi di daerah ini terus membaik, meskipun masih berada pada zona pesimis (<100). Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) triwulan III 2020 sebesar 65, yang lebih tinggi daripada IKK sebelumnya yang sebesar 59.

“IKK Provinsi Bali pada triwulan III 2020 menunjukkan kondisi perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, meski masih berada di level pesimis serta di bawah nasional. Perbaikan tersebut masih berlanjut pada bulan Oktober 2020,” kata Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi dari KPw BI Bali, Rizki Ernadi Wimanda di Renon.

Berdasarkan data, keyakinan konsumen menguat pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 2 juta sampai Rp 4 juta per bulan dan pada responden berusia 30 sampai 40 tahun. Sementara berdasarkan status kerja, responden yang yakin kondisi mengalami penguatan dari sektor informal.

Membaiknya keyakinan konsumen pada triwulan III 2020 didorong oleh persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini. Persepsi tersebut terus membaik ditopang oleh meningkatnya keyakinan terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.

Hal sama, ekspektasi konsumen terhadap perkiraan kondisi ekonomi pada enam bulan mendatang cukup optimistis. Hal tersebut disebabkan oleh ekspektasi terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.

Rizki pun menyampaikan, lebih baiknya kondisi masyarakat pada September 2020 juga tercermin dari menurunnya masyarakat yang menyatakan mengalami penurunan pendapatan yakni dari 88,1 persen (Mei) menjadi 67,5 persen (September). Namun terdapat 6 persen masyarakatyang mengalami pemberhentian kerja secara permanen atau penutupan usaha secara permanen.

Penurunan pendapatan direspon 51,6 persen responden dengan menurunkan biaya kebutuhan sehari-hari, sementara itu, 15,6 persen responden menyatakan bahwa saat ini mereka mencari penghasilan tambahan atau usaha baru. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kondisi Juni menunjukkan perbaikan dengan semakin turunnya masyarakat yang menyatakan bahwa saat ini mengurangi konsumsi.

Berdasarkan data pada September 2020, mengurangi konsumsi direspon 58,8 persen, mencari penghasilan tambahan atau usaha baru 12,6 persen dan meminta pinjaman 5,5 persen. Usaha baru yang banyak dipilih yaitu  jualan online seperti sembako, makanan dan lainnya, termasuk jual makanan atau kue basah. Sedangkan sumber pijaman dari koperasi 40 persen, bank umum 36,7 persen, teman atau kerabat 13,3 persen dan fintech 3,3 persen. *dik

BAGIKAN