Masyarakat Adat harus Didukung Ekonomi Kuat

Banyaknya kegiatan adat mendorong Kabupaten Gianyar menjadi kota seni dan budaya.

EKONOMI - Aktivitas seni masyarakat Gianyar yang disandingkan dengan kegiatan pariwisata guna menopang kehidupan ekonomi masyarakat.

Gianyar (bisnisbali.com) Banyaknya kegiatan adat mendorong Kabupaten Gianyar menjadi kota seni dan budaya. Pemerintah diharapkan bisa menyeimbangkan kekuatan adat dengan ekonomi.

Praktisi ekonomi, Wayan Murja, Senin (20/1) berharap, Gianyar didukung adat dan budaya yang sangat kental. Keunikan Gianyar ini harus dipertahankan, sehingga tidak terkikis kehidupan masyarakat yang makin modern. “Antara adat dan ekonomi harus berjalan dengan selaras dan seimbang,” kata Ketua Pengurus KSP Ema Duta Mandiri ini.

Ia menjelaskan, kegiatan seni harus bisa mempunyai nilai tawar tinggi di mata pengunjung atau wisatawan. Selama ini terkesan sekali pelaku seni baik penari maupun penabuh kurang dihargai profesinya.

Murja memaparkan, pemerintah harus memperhatikan ekonomi masyarakat Gianyar yang masih bergelut di bidang seni. Pemerintah wajib menyiapkan arena buat para seniman ini untuk tampil.

Harapan ke depan, masyarakat Gianyar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga walaupun berprofesi sebagai seniman. Salah satu contoh di Desa Saba terkenal dengan Legong Keraton, komunitas seniman di Desa Saba harus diperkuat ekonominya.

Menurut Murja, kegiatan adat tidak terlepas dari aktivitas seni dan budaya. Untuk itu kegiatan adat ini harus disokong kekuatan ekonomi yang kuat. Kegiatan adat juga seharusnya tidak mengurangi waktu masyarakat Bali dalam melakukan aktivitas ekonomi. “Kasihan ibu-ibu terlalu banyak waktunya habis di adat, sehingga kalah dengan orang seberang,  ini harus segera dicari jalan keluarnya,” kata Komisaris BPR Kertiawan ini.

Ia melihat saat ini sudah banyak orang-orang luar yang mengambil peran bisnis orang Bali yang terlalu asyik di profesi adat. Hal ini berdampak terhadap aset Bali makin tidak mampu dipertahankan orang Bali, melainkan sedikit demi sedikit beralih ke orang luar. “Hal ini pertanda sangat jelas orang-orang Bali kalah dalam ekonomi di daerah sendiri,” katanya.

Murja menambahkan, hal ini menjadi tantangan ke depan bagi Pemkab Gianyar memecahkan masalah ekonomi masyarakat. “Perlu dibuatkan program agar ekonomi tetap dapat dikuasai orang Bali tanpa meninggalkan adat budaya yang ada,” katanya. *kup

BAGIKAN