Luh Wayan Sriadi, Perjuangkan Songket Jembrana

BUKAN perkara mudah bagi pelaku usaha mempertahankan pasar di tengah pandemi Covid-19.

BUKAN perkara mudah bagi pelaku usaha mempertahankan pasar di tengah pandemi Covid-19. Terlebih kehilangan sosok pendamping hidup sekaligus partner dalam mengembangkan tenun songket Jembrana yang berpulang akibat terpapar covid. Namun, di tengah keterpurukan, dr. Luh Wayan Sriadi, salah seorang tokoh pengembangan tenun songket Jembrana bersama almarhum suami tercinta, terus berusaha dan bersemangat.

Saat diwawancarai di Denpasar, Senin (19/4) lalu, istri almarhum  I Ketut Widiadnyana ini mengatakan terus semangat memperjuangkan dan mengembangkan tenun songket Jembrana. Hal itu dikarenakan banyak masyarakat yang telah bergantung dalam usaha kain tenun ini kini sudah mampu merambah berbagai pasar hingga internasional dan telah menjadikan sebagai pekerjaan tetap.

Di tengah kehilangan sosok suami tercinta, ibu satu anak ini harus berjuang melawan keterpurukan dan melanjutkan semangat untuk membuat tenun songket Jembrana kian dikenal dan memiliki pasar. “Yang saya rasakan di awal bagaimana bisa menyembuhkan diri saya, bertarung antara perasaan saya sendiri dan kepentingkan orang banyak. Sekarang saya pakai tanggung jawab ini sebagai semangat untuk bangkit,” ujarnya.

Wanita yang sebelumnya berjuang bersama almarhum sang suami dalam mengembangkan tenun songket Jembrana ini mengaku cukup kesulitan menjalankan apa yang sebelumnya menjadi tugas sang almarhum. “Sebelumnya kami bagi tugas, almarhum di bidang pemasaran, saya di bidang produksi. Itu yang cukup sulit saat ini, karena saya harus mempelajari pemasaran,’’ ungkapnya.

Perjuangan ini harus dilanjutkan untuk menjadikan tenun songket Jembrana kian dikenal. Di samping banyak masyarakat yang bergantung di dalamnya, Sriadi menyatakan sangat berdosa dan konyol jika perjuangannya bersama almarhum suami dari nol harus ditinggalkan. “Dengan berjuang saya merasakan spirit tersebut dan almarhum masih ada hingga saat ini,” terang Sriadi.

Perjuangannya mengembangkan tenun songket Jembrana dimulai sejak 2014 lalu. Ia sebelumnya sempat pameran di Jakarta dengan produk berbeda yaitu bordir. Kala itu dirinya masih hawam dengan tenun dan songket, namun memiliki keinginan besar untuk mengembangkannya seiring tren pengembangan kain Nusantara.

Bersama almarhum suami, dia mengawali dengan menjajaki satu demi satu penenun yang mau bergabung dalam kelompok yang diberi nama Putri Mas. Semula hanya 10 orang penenun yang mau bergabung. Sriadi kemudian memulai memproduksi dan mengembangkan tenun songket Jembrana. Saat ini sudah 55 orang penenun yang bergabung dengan kelompoknya dan menjadikan menenun sebagai pekerjaan utama. Mereka merupakan ibu rumah tangga yang ada di sekitar wilayahnya. *wid

BAGIKAN