LPD Perlu Bangun Kewirausahaan Warga Desa

LPD (Lembaga Perkreditan Desa) perlu membuat program yang secara langsung dapat membantu warga desa.

Mangupura (bisnisbali.com) –LPD (Lembaga Perkreditan Desa) perlu membuat program yang secara langsung dapat membantu warga desa. Dalam hal ini, program yang dimaksud adalah program yang tidak sekadar memfasilitasi warga dengan kredit, melainkan juga melakukan terobosan baru yang aktif menggerakkan potensi desa, seperti membangun kewirausahaan, khususnya kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil.

Kepala LPD Desa Adat Kuta, I Wayan Gede Budha Artha, S.E.,M.M. mengatakan LPD seharusnya dapat membantu warganya agar menjadi pelaku ekonomi atau berwirausaha dengan merangsang warga menjadi pelaku usaha, walaupun dimulai dalam skala kecil.

“Sekarang desa-desa di Bali dikepung oleh pendatang dengan berbagai aktivitas ekonomi atau perdagangan. Mereka cerdas menciptakan sentra-sentra kegiatan perdagangan sebagai padagang aneka kebutuhan sehari-hari di pasar, atau penjual makanan di pasar senggol. Ini mereka kelola bersama di antara komunitas pendatang,” kata Budha Artha.

Sementara, warga desa tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi tersebut. Warga desa seperti inilah yang perlu dibantu dan diberi perhatian khusus oleh LPD. “Sesungguhnya, potensi desa menjadi kurang produktif karena banyak yang belum digarap dan dikelola dengan baik.

Banyak hal di desa, walau itu sesuatu yang sederhana, bisa diolah dan dikelola supaya memiliki nilai tambah ekonomi. Banyak hasil pertanian, dari ladang dan kebun di desa yang belum dimanfaatkan dengan sudut pandang entrepreneurship,” jelasnya.

Ketua BKS LPD Kabupaten Badung ini mencontohkan, usaha penjualan nasi bungkus atau nasi jinggo yang saat ini sedang marak di berbagai daerah di Bali, sebagian besar diproduksi oleh pendatang. Padahal, makanan ini sangat sederhana, isiannya cuma sedikit mi goreng, telur dadar, ayam sisit, dan sambal pedas, tetapi luar biasa laris.

Mengapa laris? Karena orang Bali sekarang senang makan nasi jinggo. Warga desa harus bisa memanfaatkan peluang di pasar kuliner nasi jinggo ini. “Mereka bisa memanfaatkan bahan makanan yang melimpah di desa dengan membuat aneka masakan tradisional yang legendaris dan dirindukan banyak orang, terutama warga kota. Meréka bisa membuat nasi jinggo jukut undis, nasi jukut kelor, nasi sela, nasi lawar kelungah, nasi jukut don belimbing, nasi sudang lepet, nasi jukut ares, nasi be gerang, nasi bira, nasi siap panggang sambel matah, nasi pepes tlengis, dan masih banyak varian lainnya,” jelasnya.  *dar

BAGIKAN