LPD Kena Dampak Virus Corona

Lesunya sektor pariwisata akibat sebaran virus corona mulai dirasakan dampaknya bagi lembaga keuangan desa adat atau LPD.

LPD - Aktivitas layanan  transaksi nasabah di LPD. Lesunya sektor pariwisata akibat sebaran virus corona mulai dirasakan dampaknya bagi lembaga keuangan desa adat atau LPD.

Gianyar (bisnisbali.com) –Lesunya sektor pariwisata akibat sebaran virus corona mulai dirasakan dampaknya bagi lembaga keuangan desa adat atau LPD. Ketua BKS LPD Provinsi Bali, Drs. Nyoman Cendikiawan, S.H., M.Si., Selasa (11/2) mengatakan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) yang beroperasi di desa adat ini mulai terancam, karena lembaga keuangan mikro desa adat ini sebagian nasabahnya merupakan pelaku industri kecil yang berhubungan erat dengan sektor kepariwisataan.

Nyoman Cendikiawan yang juga Ketua LPD Desa Adat Telepud di Kecamatan Tegalalang ini, mengakui dengan adanya wabah virus corona belakangan ini biasanya membawa imbas pada laju usaha LPD sebagai lembaga keuangan yang ada di desa adat. Namun demikian ditegaskan sampai kini dampak itu tidak signifikan, karena sampai saat ini belum ada laporan maupun data rinci.

Menurutnya, pengaruh virus corona  di Tiongkok pasti ada. Ini karena warga masyarakat desa di Bali sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pariwisata.

Nyoman Cendikiawan menegaskan kembali dampak itu sangat kecil. Terbukti kewajiban nasabah selaku debitur di LPD masih berjalan seperti biasanya.

Menyikapi ancaman akan lesunya usaha LPD, Cendikiawan berharap kepada pemerintah untuk segera menanggulangi kelesuan sektor pariwisata ini. Ini dengan membuka ruang promosi lebih lebar di luar wilayah Tiongkok, yang disebut-sebut sebagai asal virus corona itu.

“Pemerintah juga harus memberikan informasi yang sebenarnya terkait virus corona yang sekarang ini menjadi momok bagi masyarakat dunia,” pintanya.

Ketua LPD Desa Adat Mas, Made Ardana, S.E., juga tidak menampik adanya ancaman serta imbas buruk bagi usaha LPD terkait wabah virus corona. Terlebih lagi di desa adat Mas yang sebagian besar warganya, berprofesi sebagai perajin karya seni, dan sebagian lainnya. ” Mereka bergelut pada pekerjaan di sektor industri pariwisata,” ucapnya.

Ardana juga menambahkan, fenomena turunnya jumlah kunjungan wisatawan di Bali, menyusul larangan wisatawan asal Negeri Tirai Bambu Cina, sangat berimbas pada penjualan barang kerajinan. “Akibat lesunya penjualan barang seni dan merosotnya angka kunjungan turis, sudah pasti masyarakat akan mengutamakan dananya untuk hal-hal yang lebih penting,’’ jelas Ardana. *kup

BAGIKAN