LKP Agung Gelar ”Workshop” Tata Rias untuk Diri Sendiri

Serangkaian HUT WHDI dan Porseni Paud Denpasar Selatan 2020, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung menggelar Workshop Tata Rias untuk Diri Sendiri, Busana Adat Bali, Pusung Tagel dan Tengkuluk Lelunakan, Minggu (9/2) di Gedung Pers Bali Ketut Nadha Denpasar.

TATA RIAS - Workshop Tata Rias untuk Diri Sendiri, Busana Adat Bali, Pusung Tagel dan Tengkuluk Lelunakan.

Juga Busana Adat Bali, Pusung Tagel dan Tengkuluk Lelunakan

Denpasar (bisnisbali.com) –Serangkaian HUT WHDI dan Porseni Paud Denpasar Selatan 2020, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung menggelar Workshop Tata Rias untuk Diri Sendiri, Busana Adat Bali, Pusung Tagel dan Tengkuluk Lelunakan, Minggu (9/2) di Gedung Pers Bali Ketut Nadha Denpasar.

Dalam memberikan pelatihan kali ini, Pimpinan LKP Agung Dr. Dra. Anak Agung Ayu Ketut Agung, M.M., didampingi sang putri AA Sagung Diva Wastuningtyas yang memberikan pelatihan tata rias untuk diri sendiri (MUA).

Ibu Agung mengatakan sebagai pensiunan pengawas TK/SD di kota Denpasar, pihaknya ingin memberikan sumbangsih dalam Porseni PAUD Denpasar Selatan 2020. “Kebetulan tiang menguasai di bidang ini. Jadi ini yang bisa tiang bantu untuk teman-teman supaya bisa disebarluaskan informasi bagaimana memakai kamben dan berbusa adat Bali yang baik dan benar. Bagaimana batasan-batasan karena sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh guru-guru kita. Ini sebagai salah satu cara saya untuk ngayah kepada masyarakat Bali, karena workshop diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya,” tutur Pimpinan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Agung.

Sekecil apa pun yang dapat dilakukan, Ibu Agung berharap ada manfaatnya, karena perlu juga semua guru PAUD itu paham terkait berbusana adat. Termasuk siapa dan ke mana saja bisa menggunakan tengkuluk lelunakan. “Anak-anak jangan digunakan payas agung atau tengkuluk lelunakan. Itu untuk orang dewasa, kasian anak-anak.  Ini tujuan kita kumpul bersama, untuk berdoa berbagai pengetahuan,” ungkapnya. Ia berharap guru-guru di kecamatan lain juga menyusul untuk melaksanakan pelatihan dan pihaknya siap memberikan pelatihan gratis untuk kebersamaan.

Sementara AA Sagung Diva Wastuningtyas memberikan pelatihan MUA. Siswi SMA Negeri 1 Denpasar tersebut memang sejak kecil tertarik pada tata rias karena kesehariannya selalu melihat kiprah sang ibu dalam pelestarian budaya Bali khususnya tata rias pengantin Bali, bersama Viva Cosmetics yang dalam setahun melakukan 30 kali road show untuk mensosialisasikan tentang tata rias pengantin Bali yang sesuai dengan pakem.

Dengan kehadiran Gek Diva dalam memberikan pelatihan kepada para guru TK, diharapkan dapat menjadi semangat dan motivasi bagi ibu-ibu bahwa anak zaman now tidak cukup hanya berbekal pengetahuan akademik namun juga harus memiliki keahlian. “Ini sebagai contoh pada ibu-ibu yang memiliki anak remaja bahwa harus memiliki keterampilan. Lebih bagus lagi, keterampilan yang memang disukai sehingga akan lebih cepat berkembang,” tukas Ibu Agung.

Pembicara lain dalam workshop tersebut, Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.KJ,  ahli kedokteran jiwa/psikiater mengatakan membangun keluarga yang sehat mental harus dimulai dari komunikasi. Jadi kunci dalam membangun keluarga yang sehat mental adalah komunikasi, yang baik antara anggota keluarga. Dengan komunikasi yang baik, akan saling memahami dan mengerti satu sama lain.

Ketua PKG Denpasar Selatan, Ketut Anggraeni, S.Pd. mengatakan, Porseni PAUD Denpasar Selatan  merupakan agenda tahunan. Workshop merupakan salah satu dari berbagai kegiatan lainnya.

“Kami bekerja sama dengan LKP Agung melaksanakan workshop tata rias ini karena saya ingin para guru setidaknya bisa merias diri sendiri sesuai dengan profesinya sebagai guru. Make up seorang guru dan karyawan bank misalnya pasti berbeda. Makanya saya ingin mendapatkan pengetahuan langsung dari ahlinya,” ucap Anggraeni.

Ia berharap nantinya para guru tahu bagaimana cara make up diri sendiri yang sesuai dengan profesi sebagai guru. “Selain itu kami juga ingin belajar bagaimana membuat pusung tagel yang merupakan lambang kedewasaan perempuan Bali, memakai tengkuluk lelunakan dan mengetahuinya etika berbusana adat Bali. Karena sekarang setiap hari Kamis harus menggunakan busana adat Bali ke tempat kerja,” tukasnya. Ibu Agung menjadi bagian dari tim sosialisasi etika berbusana adat Bali. Di sekolah sering ada lomba berbusana adat Bali, jadi para guru harus tahu pakemnya sebelum menjadi juri.

Sementara Ketua WHDI kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara yang hadir pada kesempatan tersebut mengatakan, dalam rangka HUT ke-32, WHDI bekerja sama dengan LKP Agung melibatkan guru-guru PAUD Denpasar Selatan melaksanakan sosialisasi tentang sanggul dan busana adat Bali.

“Ini sesuai dengan visi WHDI yaitu membangun keluarga yang sakinah bawantu, yaitu keluarga yang bahagia dan sejahtera diharapkan nanti melahirkan anak yang suputra. Guru PAUD ini adalah bagian dari catur guru, kami harapkan dari tangan mereka lahirlah anak-anak yang suputra mereka harus meninggalkan kualitas dirinya baik melalui pendidikan formal dan nonformal,” tuturnya.

Dikatakan, workshop tatarias merupakan bagian dari pendidikan nonformal. Bila kegiatan dilanjutkan, nantinya diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi untuk keluarga. *pur

BAGIKAN