Lebih Efisien, Petani Mulai Gunakan Alsintan untuk Panen

PADA musim panen padi saat ini sejumlah petani di sentra produksi padi di Kabupaten Tabanan sudah mulai melirik penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

PANEN - Pemanfaatan combine harvester di Subak Bengkel pada musim panen raya.

PADA musim panen padi saat ini sejumlah petani di sentra produksi padi di Kabupaten Tabanan sudah mulai melirik penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan). Penggunaan alsintan dinilai efektif menekan biaya panen dan mampu menurunkan tingkat kehilangan gabah.

Alsintan salah satunya diadopsi petani di Subak Bengkel, Kecamatan Kediri. Pada musim panen ini, para petani dengan subak seluas 300 hektar tersebut sudah memanfaatkan alsintan panen berupa  combine harvester untuk sejumlah luasan tanam.

Petani sekaligus pengusaha penyosohan beras Boki Murni di Desa Bengkel, Kediri, I Made Merta Suteja, Selasa (23/3) mengungkapkan, penggunaan alsintan di Subak Bengkel makin diminati petani. Hal ini dikarenakan ada banyak nilai lebih yang didapat petani, baik pada proses tanam hingga pada saat panen.

Contoh pada musim panen saat ini, dengan menggunakan combine harvester, petani bisa memangkas waktu dalam proses panen, efisiensi biaya hingga pendapatan yang dinikmati dari segi volume akan menguntungkan. Dengan perhitungan luas panen padi mencapai 1 hektar, jika melibatkan 10 orang tukang panen maka panen dikerjakan selama dua hari. Sedangkan jika memanfaatkan combine harvester dengan luasan panen yang sama, hanya membutuhkan tiga orang untuk mengoperasikan alat dan membutuhkan waktu panen satu hari saja. “Efesiensi tenaga panen dengan menggunakan alat ini tentunya juga akan membuat biaya yang dikeluarkan petani menjadi bisa ditekan pula,” tuturnya.

Perhitungannya, jika biaya untuk ongkos tenaga kerja per hektar disumsikan mendapatkan hasil 7 ton mendapatkan upah mencapai Rp 700 per kg per orang. Artinya, biaya tukang panen yang harus ditanggung petani mencapai Rp 4.900.000. Sementara bila menggunakan mesin combine harvester dengan asumsi upah tenaga kerja Rp 500 kg per orang dikalikan dengan volume produksi yang mencapai 7 ton, maka biaya yang dikeluarkan petani hanya mencapai Rp 3.500.000.

“Penggunaan alsintan ini juga menjadi jawaban ketika dihadapkan pada sulitnya untuk mendapatkan tenaga kerja atau buruh panen yang sebagian besar bergantung dari Jawa,” ujarnya.

Keuntungan lain yang didapat petani dengan memanfaatkan alat panen ini adalah kualitas gabah yang biasanya dipanen dengan cara konvensional ini kotor, namun dengan alat panen kualitas gabah yang dihasilkan bersih sehingga sesuai dengan keinginan di kalangan pelaku usaha penggilingan. Terpenting lagi adalah tingkat kehilangan atau losses gabah pada saat panen bisa ditekan dengan alat combine harvester, bahkan mencapai 5 persen.

Di sisi lain, kata dia, selama ini dari total luas Subak Bengkel yang mencapai 300 hektar, pemanfaatan alsintan ini baru menjangkau 10 persen. Kendalanya, lahan yang cukup luas sehingga belum maksimal tercover dengan alsintan yang ada saat ini. Selain itu, pemanfaatan alsintan meski menguntungkan dari sisi biaya produksi, namun sejumlah petani masih belum bisa menerima pemanfaatan alsintan tersebut. “Ke depan, kami berusaha mengubah mindset petani terhadap pemanfaatan alsintan, sekaligus dalam rangka menuju pertanian yang maju, mandiri dan modern,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana mengungkapkan, saat ini sejumlah sentra pertanian di Tabanan memang telah mulai mengadopsi teknologi dalam bentuk alsintan. Kondisi tersebut seiring manfaat dirasakan oleh petani dengan menggunakan alsintan pertanian yang beberapa merupakan bantuan dari pemerintah pusat, dirasa menguntungkan.

Sebab itu, banyak kelompok tani di Tabanan yang mengajukan permohonan ke Dinas Pertanian untuk diteruskan ke pemerintah pusat, agar bisa dibantu mendapatkan alsintan, khususnya combine harvester. Data terakhir, kelompok tani yang mengajukan usulan agar dibantu combine harvester ini mencapai 10 kelompok. “Tentunya usulan tersebut dengan harapan bantuan combine harvester bisa segera mereka dapatkan dan dengan fitur alat yang sesuai kondisi lahan produksi mereka,” tandasnya. *man

BAGIKAN