Lebih Buruk dari Krisis 1998, Proses Pemulihan Ekonomi akan Lama

Keterpurukan perekonomian pada 2020 dampak dari covid-19 atau virus corona dapat dipastikan akan lebih buruk dari kondisi krisis pada 1998.

Denpasar (bisnisbali.com) –Keterpurukan perekonomian pada 2020 dampak dari covid-19 atau virus corona dapat dipastikan akan lebih buruk dari kondisi krisis pada 1998.
“Sudah barang tentu proses pemulihannya tidak semudah dalam menangani krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 mengingat penyebabnya berbeda dsn akibatnya lebih parah. Ibaratnya sudah jatuh ketimpa tangga pula,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bali Bidang Fiskal dan Moneter, IB Kade Perdana di Sanur, Selasa (23/6) .

Ia memaparkan dampak dari corona, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2020 melambat yaitu hanya tumbuh 2,97 persen dibandingkan dengan capaian triwulani I 2019 kisaran 5,07 persen, maupun triwulan IV-2019 kisaran 4,97 persen (yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2020 tidak lain karena terjadinya penurunan permintaan domestik, konsumsi rumah tangga menurun drastis, demikian juga dengan investasi yang ikut melambat pertumbuhannya.
Menurut Kade Perdana, terjadi perlambatan dalam kegiatan lapangan usaha yang dipengaruhi oleh aktivitas sosial kemasyarakatan yang terhenti sejalan dengan langkah-langkah memitigasi penyebaran covid-19, apalagi sektor pertanian juga terganggu akibat faktor cuaca.
“Tentu ini membuat sektor UMKM paling terdepan terpuruk, berbeda dengan krisis 1998 UMKM keluar sebagai penyelamat perekonomian saat itu,” katanya.

Kondisi inilah kata mantan Dirut Bank Sinar Jreeeng ini, pemulihannya akan memerlukan biaya yang tidak ringan seperti biaya bidang kesehatan, pencegahan penyebaran covid-19, social safety net, insentif perpajakan, stimulus KUR dan untuk pemulihan ekonomi nasional. Tidak heran total Rp405,1 triliun sebagai tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penangan covid 19 dan penanggulangan dampaknya.
Ia pun menilai Bali sebagai bagian dari NKRI sudah pasti terpuruk berat perekonomiannya, mengingat Bali menempatkan industri pariwisata sebagai lokomotif perekonomian. “Dengan adanya wabah penyebaran covid 19 tentu memicu terganggunya aktivitas sosial dan mobilitas manusia yang cenderung tidak bergerak membuat sektor kuliner, sektor sosial, sektor transportasi, sektor akomodasi pariwisata atau pariwisata itu menjadi ambruk,” paparnya.

Kondisi ini tentu berdampak buruk terhadap perekonomian Bali. Bali sudah terlanjur euforia dan dinina bobokan dengan menggantungkan hidup dari sektor pariwisata dengan mengabaikan sektor penunjang utamanya seperti Budaya Hindu Bali, sektor primer seperti pertanian dan sektor sekunder industri kerajinan.
Gubernur Bali bahkan telah mewacanakan menyeimbangkan peran kepariwisataan dengan sektor pertanian dan sektor kerajinan rakyat dengan mempercayakan dan memberdayakan peran perusahaan daerah. “Kami kira ini sudah merupakan langkah yang tepat dan jitu dengan tetap menjaga dan mengapresiasikan Budaya Hindu Bali sebagai fundamental yang tidak boleh diabaikan dan dikesampingkan,” ujarnya.

Namun demikian persoalan selanjutnya mampukah Gubernur menempatkan orang-orang yang tepat, the right man in the right place dan the man behind the gun pada perusahaan daerah agar berperan penting dan dominan sebagai agen pembangunan daerah Bali tanpa mengabaikan prinsip pang pade payu (saling memberdayakan dan saling menguntungkan).*dik

BAGIKAN